(Panjimas.com) – Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wan Nihayah,XI: 25, tentang biografi Imam Bukhari, pemuka kaum beriman dalam bidang hadits, pemilik jasa besar atas kaum muslimin sampai hari pembalasan, ”Dia melakukan perjalanan kepada seluruh guru hadits di kota-kota yang memungkinkan baginya untuk menjangkaunya. Dia menulis hadits lebih dari seribu guru. Al-Fibrari mengatakan , ”Yang mendengar As-Shahih dari Bukhari sebanyak kurang  lebih 7000 orang, termasuk aku. Tidak tersisa dari mereka seorang pun, selain aku.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, ”Bukhari pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmu yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian, ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi  kurang lebih dua puluh kali.”

Tercantum di dalam Tahdzibul Asma’ wal Lughat,I:75, karya Imam Nawawi, dan Thabaqatusy Syafi’iyah, II:220 dan 226, karya Tajudin As-Subki  tentang biografi Imam Bukhari. Aku memperhatikannya bangun, lalu ia menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu, dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali.”

Muhammad bin Ibnu Hatim, orang yang menyediakan kertas bagi Bukhari dalam suatu perjalanan, maka dia mengumpulkan kami dalam satu rumah, kecuali terkadang di musim panas. Aku melihatnya bangun dalam satu malam sebanyak lima belas sampai dua puluh kali. Pada saat seperti itu, ia mengambil pemantik api, lalu ia menyalakan api dan lampu. Kemudian ia mengeluarkan hadits-hadits, dan menandainya. Lalu, ia merebahkan diri, dan shalat di waktu sahur sebanyak tiga belas rakaat. Setiap kali ia bangun, ia tidak pernah membangunkanku. Aku bertanya kepadanya, ”Engkau melakukan semua ini dengan tekun, tanpa membangunkanku.’ Dia berkata, ”Kamu masih muda, aku tidak ingin mengganggu tidurmu.”

Suatu hari, ketika kami berada di Firabr, aku melihatnya terlentang di atas tengkuknya dalam menulis kitab tafsir. Pada hari itu ia terlihat begitu lelah, karena banyaknya ia mengeluarkan hadits. Aku bertanya kepadanya, ”Wahai Abdillah, aku mendengarmu telah berkata, ”Sesungguhnya aku tidak melakukan sesuatu tanpa ilmu, sejak aku memahaminya . Lalu, ilmu apa yang engkau terapkan dalam kondisi terlentang begini ?”

Dia menjawab, ”Kami begitu lelah hari ini. Dan, tempat ini adalah salah satu perbatasan. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi dari musuh. Aku ingin beristirahat, dan aku mempersiapkan diri untuk itu. Jika tiba-tiba musuh menyerang, sementara kita belum siap, kita masih punya kekuatan.

Bukhari ahli menunggang dan memanah. Selama aku menyertainya, aku belum pernah mengetahui panahnya melesat dari sasaran, kecuali dua kali, dan ia tak tertandingi.” [DP]

 

Buku: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama

Penulis: Syaikh Abdul Fattah