Ahok Boneka Kecil, Ada Ahok Besar di Belakangnya

SUKOHARJO (Panjimas.com) – Ustadz Usman Haidar Bin Sef, Direktur Ma’had Tahfidz Al Mustaqbal menyampaikan tiga kunci dalam menyonsong kebangkitan umat. Saat menjadi pembicara Tabligh Akbar di Masjid Al Muhtadin, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah tiga kunci itu adalah Konsolidasi, Persatuan dan Persiapan Generasi.

Ustadz Usman Haidar menjelaskan bahwa kunci menyonsong kebangkitan umat dengan adanya  konsolidasi umat. Keberpihakan umat kepada kebenaran bukan masalah yang mudah, namun harus dikonsolidasikan. Kedasyatan aksi 212 hingga tujuh juta umat Islam karena konsolidasi yang baik sehingga banyak negeri Muslim bersimpati terhadap aksi tersebut.

“Shalat, puasa, zakat, haji minus tanpa keberpihakan kepada Al Haq sama dengan munafiq. Tempatnya di neraka di bawahnya orang-orang kafir. Keberpihakan kepada Al Haq itu penting. Sampai-sampai Rasulullah mengatakan Islam seperti roda, kalau Islam ada di atas kau ikuti hukum Islam, kalau Islam ada di bawah kau pegang erat-erat,” kata Ustadz yang pernah berguru dengan Syeik Abdullah Azzam itu, Kamis (16/3/2017).

Ustadz Usman Haidar mengakui bahwa di balik kedahsyatan aksi 411 dan 212, ada kekuatan besar di belakang Ahok. Untuk itu kunci kebangkitan umat yang kedua adalah persatuan umat. Menurut dia, umat Islam harus melakukan sebagaimana musuh terikat dengan tali persatuan yang kuat.

“Kedasyatan 212 ternyata ada musibah besar apa itu? Kita baru tahu, baru bangun dari tidur. Musibah apa itu? Ternyata Ahok bukan satu pribadi, hanya boneka kecil, dibelakang ada boneka besar. Ada konglomerat, ada pejabat, ada komandan, ada Jendral, ada bos, ada big-big bos, mereka terikat dengan tali persatuan. Kalau kamu tidak melakukan persatuan seperti mereka (Yahudi dan Nasrani) akan timbul kesesatan dan kerusakan di muka bumi ini,” ujarnya.

“Ini pendidikan kepada anak, kita berbicara perjuangan dan pendidikan, yang perlu kita lakukan adalah melanjutkan estafet perjuangan ini. Bangsa Israel kalau mengajak anaknya piknik itu dibawa ke markas militer. Memperkenalkan senjata militer, untuk apa untuk menyerang orang Islam, menamkan permusuhan kepada anak-anak sejak dini,” ucapnya. [SY]