MOSKOW, (Panjimas.com) – Rusia Kamis (08/02) menegaskan bahwa eksistensi dan aktifitas ilegal “A.S.” di Suriah sebagai rintangan dalam proses perdamaian.

Moskow pun menuding AS telah memberikan tempat berlindung kepada para “militan.”

“Aktifitas bersenjata ilegal A.S. di Suriah tetap merupakan tantangan serius bagi kemajuan menuju perdamaian di Suriah dan pelestarian kesatuan dan integritas teritorialnya,” demikian menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zaharova dalam konferensi pers, dikutip dari AA.

Zaharova mengklaim bahwa para militan menggunakan zona sepanjang 55 kilometer yang dibuat secara sepihak oleh A.S. di sekitar pangkalan militer mereka di Suriah Selatan, tepatnya di dekat Desa At Tanf untuk bersembunyi dari pasukan rezim Assad.

“Militan bersembunyi dari persekusi pasukan pemerintah Suriah, mereka berkumpul kembali di sana, mempersenjatai serangan baru di gurun Suriah,” pungkasnya.

Turki juga mengeluhkan operasi pasukan A.S. di Suriah yang mendukung dan memasok senjata ke teroris PYD / PKK.

Operasi Militer di Afrin Suriah

Afrin merupakan sebuah wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Hatay dan Kilis di Turki. Operasi milliter di Afrin akan digelar lebih luas setelah Operasi Shup Safir selama tujuh bulan yang sukses di Suriah Utara, dan berakhir pada bulan Maret 2017 lalu.

Rezim Bashar al-Assad menyerahkan kendali Afrin kepada milisi kurdi PYD / PKK tanpa pertempuran, dan saat ini ada sekitar 8.000-10.000 personil PYD/PKK berada di wilayah tersebut, demikian menurut informasi yang dihimpun oleh Anadolu Agency.

Setelah Turki memperingatkan kehadiran militernya di Afrin, Milisi PYD/PKK sekarang ini bersembunyi di tempat penampungan dan lubang-lubang di daerah pemukiman di sana.

PYD/ PKK merupakan cabang Suriah dari organisasi militan Kurdi yang telah dimasukan dalam daftar organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa serta Turki – dan mulai melakukan kampanye bersenjata pada bulan Juli 2015.

Sejak pertengahan 1980an, PKK telah melancarkan kampanye teror yang luas melawan negara Turki, di mana diperkirakan 40.000 orang dibunuh.

Sejak saat itu, mereka telah membunuh lebih dari 1.200 personil keamanan dan warga sipil Turki, termasuk perempuan dan anak-anak.

PKK berjuang untuk kemerdekaan dan kepentingan nasionalime etnis Kurdi.

Sejak puluhan tahun lamanya PKK memperjuangkan ideologi marxisme-leninis, mencita-citakan Negara Komunis dengan berbasis nasionalisme Kurdi.

Dengan karakter ektrim kiri komunis yang keras ini telah lama mereka berseteru dengan Turki.[IZ]