NEW YORK, (Panjimas.com) – PBB mengungkapkan bahwa pihaknya sangat khawatir dengan situasi kemanusiaan di Ghouta Timur Suriah menyusul laporan bahwa sejumlah besar warga sipil terbunuh dalam serangan udara pasukan rezim Bashar al-Assad, Selasa (20/02).

“Sekretaris Jenderal sangat khawatir dengan situasi yang meningkat di Ghouta Timur dan dampaknya yang menghancurkan pada warga sipil,” pungkas Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres, dalam pernyataan tertulisnya, seperti dilansir dari Anadolu Ajensi.

Pernyataan jubir Sekjen PBB tersebut juga menyebutkan adanya laporan bahwa lebih dari 100 korban jiwa terbunuh di Ghouta Timur sejak Senin (19/02), termasuk setidaknya 13 anak-anak, sementara 5 rumah sakit atau klinik medis di daerah tersebut terkena serangan udara dan lebih dari 700 orang memerlukan evakuasi medis sesegera mungkin.

Hampir 400.000 penduduk sipil di Ghouta Timur telah mengalami serangan udara, penembakan dan pengeboman, tulis pernyataan tersebut.

Akibat pengepungan pasukan rezim Assad, penduduk Ghouta Timur hidup dalam kondisi ekstrim, termasuk kekurangan gizi, imbuhnya.

Sementara itu, ada laporan tentang pengeboman dari Ghouta Timur di Damaskus, jelas pernyataan tersebut.

Pernyataan jubir Sekjen PBB itu juga menyebutkan bahwa wilayah Ghouta Timur adalah bagian dari kesepakatan de-eskalasi yang dicapai Mei 2017 lalu di ibukota Kazakhstan, Astana, oleh karana itu Sekretaris Jenderal PPBB mengingatkan semua pihak, terutama para penjamin kesepakatan Astana, mengenai komitmen mereka dalam hal ini.

PBB telah berulang kali menyerukan gencatan senjata untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dan evakuasi warga yang sakit dan terluka, jelas  pernyataan tersebut.

“Sekretaris Jenderal mendesak semua pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional dipatuhi, termasuk akses kemanusiaan yang tidak terhalang, evakuasi medis tanpa syarat, dan perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil,” tegas pernyataan tersebut.

Ghouta Timur berada dalam jaringan zona de-eskalasi – yang didukung oleh Turki, Rusia dan Iran – di mana tindakan agresi militer dilarang.

Namun demikian, rezim Assad terus menargetkan bagian pemukiman warga sipil di kota tersebut, sehingga menewaskan sedikitnya 539 jiwa – dan melukai lebih dari 2.000 korban lainnya – sejak 29 Desember tahun 2017 lalu.

Desa-desa di Ghouta Timur terus menjadi sasaran pasukan rezim Assad, meskipun fakta bahwa wilayah-wilayah tersebut termasuk dalam jaringan zona de-eskalasi dimana tindakan agresi militer dilarang.

Rezim Bashar al-Assad, bagaimanapun, telah berulang kali melanggar kesepakatan zona de-eskalasi tersebut dan telah menargetkan wilayah-wilayah pemukiman di

Menjadi rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, Ghouta Timur tetap berada di bawah pengepungan rezim yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir. Dalam laporan tahunan yang baru saja dirilis, White Helmets menuding bahwa sebanyak 1.337 warga sipil dibunuh di Ghouta Timur pada sepanjang tahun 2017 akibat serangan-serangan yang terus berlanjut oleh pasukan rezim Bashar al-Assad.

Ghouta Timur telah dikepung selama 5 tahun lamanya dan akses kemanusiaan ke kota yang merupakan rumah bagi 400.000 warga sipil tersebut kini telah benar-benar terputus. Ratusan ribu penduduk saat ini sangat membutuhkan bantuan medis.

Dalam 8 bulan terakhir, rezim Bashar al-Assad telah mengintensifkan pengepungan di wilayah Ghouta Timur, sehingga hampir tidak mungkin disalurkannya pasokan makanan dan akses obat-obatan ke distrik tersebut sehingga membuat ribuan pasien dalam kondisi kritis dan memerlukan pengobatan segera.

Selama pembicaraan damai di ibukota Kazakhstan, Astana, tiga negara penjamin, Turki, Iran dan Rusia, sepakat untuk menetapkan zona de-eskalasi di Idlib dan di beberapa bagian Provinsi Aleppo, Latakia dan Hama.

Sejak awal 2011, Suriah telah menjadi medan pertempuran, ketika rezim Assad menumpas aksi protes pro-demokrasi dengan keganasan tak terduga — aksi protes itu 2011 itu adalah bagian dari rentetan peristiwa pemberontakan “Musim Semi Arab” [Arab Spring].

Sejak saat itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas dan lebih dari 10 juta penduduk Suriah terpaksa mengungsi, menurut laporan PBB.

Sementara itu Lembaga Pusat Penelitian Kebijakan Suriah (Syrian Center for Policy Research, SCPR) menyebutkan bahwa total korban tewas akibat konflik lima tahun di Suriah telah mencapai angka lebih dari 470.000 jiwa. [IZ]