GAZA, (Panjimas.com) — Kapal armada bantuan kemanusiaan ‘flotilla’ kedua akan berangkat dari Gaza Selasa (10/07) dengan harapan dapat menghancurkan blokade 11-tahun Israel di Jalur Gaza, demikian menurut LSM Palestina.

“Armada ‘flotilla’ akan berangkat pukul 11 esok (Selasa) [dari Gaza] membawa para warga Palestina yang sakit dan terluka yang tidak dapat melakukan perjalanan ke luar negeri [untuk perawatan medis] sebagai akibat dari blokade,” pungkas Bassam Manasra, juru bicara Komite Nasional Gaza untuk Menghancurkan Pengepungan [Gaza’s National Committee for Breaking the Siege], dalam konferensi pers Senin (09/07) di Gaza.

“Freedom Boat 2” akan menjadi armada kemanusiaan kedua yang berangkat dari Jalur Gaza yang diblokade sejak Palestina mulai menggelar aksi unjuk rasa massal di sepanjang pagar keamanan Gaza-Israel pada 30 Maret lalu.

“Kami mengumumkan rencana untuk meluncurkan armada lain … lebih dari sebulan yang lalu dan tidak akan mundur dari keputusan sampai kami mencapai tujuan kami,” ujar Manasra, dikutip dari Anadolu.

Jubir “Komite Nasional Gaza untuk Menghancurkan Pengepungan” ini pun mendesak para pejabat lokal dan internasional untuk menyediakan armada dan para penumpang Palestinanya perlindungan “dari segala kemungkinan pelanggaran-pelanggaran Israel”.

Armada pertama berangkat dari Gaza pada 29 Mei lalu membawa pasien medis dan mahasiswa Palestina, banyak di antaranya terluka saat aksi demonstrasi.

Armada ini terdiri dari sebuah kapal utama diiringi dengan lusinan kapal yang lebih kecil, dan bertujuan menunjukkan perlawanan terhadap blokade Israel yang melumpuhkan Gaza, selama lebih dari satu dekade lamanya.

Pasukan Angkatan Laut (AL) Israel dengan cepat mencegat dan menyita kapal kemanusiaan ini, menahan semua 17 penumpang Palestina di atas kapal itu.

Sementara semua penumpang yang ditahan dibebaskan, kapten kapal, Suheil Muhammad al-Amoudi, sampai saat ini tetap berada dalam tahanan Israel.

Wilayah Jalur Gaza mengalami krisis parah sejak blokade Israel yang melumpuhkan sejak tahun 2007, sehingga menghancurkan perekonomian daerah pesisir itu dan memutus akses komoditas-komoditas pokok bagi sekitar 2 juta penduduknya.

Sejak 30 Maret, lebih dari 135 warga Palestina gugur akibat berondongan peluru tentara Israel – dan ribuan lainnya terluka – saat berpartisipasi dalam rentetan aksi demonstrasi di sepanjang pagar keamanan Gaza-Israel.

Warga Palestina di Gaza terus melakukan aksi demonstrasi berbulan-bulan di sepanjang perbatasan yang mencapai puncaknya pada tanggal 15 Mei lalu. Hari itu akan menandai peringatan 70 tahun pendirian negara Israel – sebuah acara yang disebut oleh warga Palestina sebagai peristiwa “Nakba” atau “Malapetaka”.

Para pengunjuk rasa menuntut agar para pengungsi Palestina diizinkan mendapatkan hak-haknya untuk pulang kembali ke kota-kota dan desa-desa yang keluarga mereka diami saat terpaksa melarikan diri, atau diusir dari tanah miliknya, saat negara Yahudi Israel dideklarasikan pada tahun 1948.

Para aktivis Palestina menggambarkan kamp-kamp dan tenda-tenda perkemahan itu sebagai “titik pementasan untuk kami kembali ke tanah air dari mana kami diusir pada 1948”.[IZ]