Lebak-Banten (Panjimas.com) — Lembah Barokah Ciboleger dibangun untuk menampung dan memberdayakan mualaf Baduy. Lokasinya cukup strategis, sekitar 500 meter dari terminal Ciboleger atau pintu masuk perkampungan orang Baduy.

Saat ini, Yayasan Spirit Membangun Ukhuwah Islamiah (YASMUI) sudah selesai membangun 27 unit rumah, 14 unit diantaranya sudah dihuni oleh warga mualaf Baduy, termasuk 1 unit yang dihuni 1 keluarga asli Baduy (belum mualaf).

Berikutnya akan dibangun lagi 23 unit rumah, diperkirakan selesai pada bulan Maret 2019. Sedangkan rencana jangka panjangnya akan dibangun 300 unit, dan insya Allah akan dilengkapi dengan masjid.

“Saat ini Lembah Barokah Ciboleger dihuni oleh 17 KK. Sebagian besar dihuni oleh mualaf Baduy. Hanya satu KK yang masih berkeyakinan lama. Meski berbeda keyakinan, kita tetap menerima mereka, dan tak pernah membeda-bedakan,” kata Direktur Eksekutif Gerbang Betawi dr. H. Ashari saat sambutan kegiatan “Jelajah Ciboleger”, Sabtu (26/1/2019).

Sebelum tinggal di Lembah Barokah Ciboleger, kata dr. Ashari, mereka tinggal di saung milik lahan orang lain. Perlu diketahui, ada aturan yang harus dipatuhi dalam tradisi Baduy Dalam, seorang yang telah menjadi mualaf, harus keluar dari wilayahnya, dan tak punya tempat tinggal lagi.

“Bertahun-tahun mereka tidak punya tempat tinggal. Sudah numpang dengan kondisi atap seadanya, mereka kepanasan dan kehujanan. Nah, saat keluar kampung Baduy, mereka tidak punya aset apapun, mereka tak berpendidikan, tak bisa baca tulis, dan tak punya ketrampilan. Dengan latarbelakang itulah, kami ingin mendidik mualaf Baduy agar bisa baca tulis dan hidup sejahtera.”

Insya Allah, lanjut dr. Ashari juga berencana akan membangun Pesantren Tahfizh Qur’an, dan 6 unit rumah untuk para guru. “Selama ini saya dibantu oleh Ustaz Adung, seorang pendakwah sejati, yang berjuang bertahun-tahun, tidak pernah digaji, tapi tetap istiqomah. Oleh beliau, saya dipertemukan oleh para mualaf Baduy.”

Dr. Ashari bersama Ustaz Adung berjuang bersama, jalan kaki ke hutan-hutan dan lembah-lembah untuk menemui mualaf Baduy. Hingga saat ini, Ustaz Adung sudah membina 150 KK mualaf Baduy. “Kita akan sediakan lahan untuk 300 KK. April 2019 nanti akan dibangun 50 unit rumah untuk 50 KK. Dalam setahun ini akan terbangun 100 unit. Targetnya tahun 2023 nanti akan dibangun 300 unit rumah, Insya Allah,” kata dr. Ashari.

Dr. Ashari berharap Gerbang Betawi bangkit terus. “Kami punya program hijau untuk lima tahun ke depan, yakni program menanam 10.000 pohon. Teman-teman Gerbang Betawi ada yang membawa pohon palem dan jengkol. Kami juga melepas burung di alam terbuka.”

Patut diacungi jempol, di kawasan Lembah Barokah Ciboleger, ada aturan yang tak boleh dilanggar, yakni membawa senapan untuk menembak burung. “Kami ingin burung-burung bertambah banyak, dan berkicau sepanjang waktu.”

“Dalam kesempatan itu, Mpok Yani yang merupakan anggota Gerbang Betawi, menyumbang 1 unit rumah untuk mualaf Baduy. Juga bang Syarif nyumbang 2 unit rumah. Perlu diketahui, untuk satu unit rumah seharga Rp. 15 juta. Bagi yang ingin menyumbang lahan untuk 1 meter senilai Rp 25.000. Boleh ambil 40 meter, mengingat masih butuh 300 unit rumah lagi.”

Selain rumah dan pesantren tahfizh, dr Ashari juga merencanakan untuk membangun Sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), mengingat banyak anak disini yang tak sekolah, karena jarak ke sekolah yang jauh.

“Kami juga akan membangun masjid dengan gaya tradisional, perpaduan interorior dua etnis, Betawi dan Baduy. Saya berharap Gerbang Betawi terus bangkit, seperti visi-misinya sebagai lokomotf perubahan. Kami punya misi kemanusiaan untuk terus digelorakan, baik di Jakarta maupun Baduy. Kami juga misi memberdayakan ekonomi, pendidikan, dan akidah masyarakat setempat. Karena itu Gerbang Betawi tidak hanya menjadi lokomotif di dunia, tapi juga akhirat nanti,” ungkap dr. Ashari. (des)