DEPOK (Panjimas.com) – Santri bukanlah seseorang yang hanya bisa mengaji al-Quran dan kitab, menghafal banyak ayat, hadits, dan syai’r, serta hidup mandiri tanpa dampingan orang tua. Santri bukan hanya orang yang bisa berbahasa Arab bahkan bisa mengi’rabnya.

“Santri bukan hanya orang yang pandai memakai sarung, koko, dan peci. Tapi ingatlah perkataan sang pendiri Pesantren Gontor, ”Sampai kapan pun saya akan tetap mengajar. Seandainya sudah tidak ada lagi santri yang hendak belajar, maka saya akan mengajar dunia dengan pena.”

Demikian kata pengantar Fatih Madini (16 tahun), dalam buku perdananya yang berjudul “Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia, Catatan Pemikiran Santri Millenial” (diterbitkan oleh Pondok Pesantren At-Taqwa-Depok, 2018)

Menurut Fatih atau akrab disapa Imad, santri juga harus bisa menulis. Pandai menulis bukanlah suatu hal yang sulit, juga bukan hal yang gampang. Butuh keterampilan dan banyak pengalaman. Tidak semua orang mahir menulis, tapi apa salahnya, kalau yang tidak bisa, terus mencobanya. Sebab dengan tulisan, seseorang akan senantiasa dikenang.

Dengan karya, otoritas akan tercipta. Ingatlah seorang pujangga Arab pernah berkata, ”Hiduplah sebagai penulis, dan matilah sebagai orang yang ditulis (dikenang).”

Dengan karyanya, Imam Syafii Imam al-Chazali, Imam Suyuti, Imam Bukhari, Syekh az-Zarnuji, Syekh Abdul Shamad, Raja Ali Haji, Syekh Nawawi al-Bantani, KH. Hasyim Asy’ari, Buya HAMKA, dan M. Natsir, tetap dikenang dan senantiasa diingat sampai hari ini. Umat Muslim tidak pernah melupakan jasa besar mereka terhadap Islam.

“Karya-karya mereka masih dikaji. Meskipun sudah tiada, entah mengapa kehadiran mereka masih terasa hingga saat ini. Itulah mengapa az-Zarnuji mengatakan bahwa ahli ilmu itu akan hidup selamanya, meskipun sudah tiada di dunia,” ungkap Fatih.

Dikatakan Fatih, kalau dahulu Rasulullah Saw dan para Sahabat mahir dalam mengayunkan pedangnya untuk berperang, maka sekaranglah saatnya kita mengayunkan pena dan menggerakkan jari untuk ”berperang” juga.

“Bukan secara fisik, tapi secara pemikiran. Tuangkanlah semua pikiran dalam rangka melawan kemungkaran. Di zaman ini, Indonesia tidak diserang secara masal melalui fisik. Tapi semua musuh Islam, mencoba menuangkan semua fikiran dan ide mereka dalam satu karya demi runtuhnya Islam. Maka, kewajiban kita ialah meng-counter-nya,” pesannya.

Fatih sempat mengaku takjub dengan tulisan Firda Inayah alias Afi Nihaya Faradisa, remaja asal Banyuwanyi yang dikenal pemikiran liberal dan sekulernya. “Meski tulisannya dianggap plagiat, Afi itu pinter, tulisannya bisa menjebak bagi yang membacanya. Nah, menjadi tugas santri untuk mengcounter tulisan-tulisan Afi, dengan tulisan juga. Karena itu worldview Islam harus dimiliki para santri saat menulis,” kata Fatih.

Fatih mengingatkan, seorang santri harus bisa menulis, karena zaman yang menuntut untuk berbuat hal ini. Kumpulan tulisan yang berisi tiga bab ini adalah karya perdananya. Berangkat dari perintah Ustadz Muhammad Ardiansyah (Mudir Pondok At-Attaqwa) untuk menulis apa yang telah beliau jelaskan mengenai konsep teman dalam kitab Bidayatul Hidayah, maka lahirlah satu tulisan yang berjudul Teman Dalam Perspektif Islam.

“Sejak saat itu saya pun mulai menulis dari hal-hal yang saya lihat, dengar, baca, dan saya pikirkan untuk kemudian disimpulkan. Kemudian lahirlah buku ini, yang berisi kumpulan tulisan dari tahun 2016 sampai tahun 2018,” ujarnya bangga.

Tak lupa Fatih mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa membantu terselesaikannya karya ini, terutama ustadz’ustadz di pondok At-Taqwa. Khususnya Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, Ustadz Dr. Alwi Al’Attas, dan seluruh Ustad di Pesantren at-Taqwa Depok. Juga, khususnya kepada Ustadz Dr. Adian Husaini, ayah beliau sendiri.

“Beliaulah yang telah rela meluangkan waktunya untuk mengoreksi tulisan saya sampai memberi ide untuk mengkompilasikannya menjadi satu karya.”

Fatih juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua dan kakak-kakaknya, yang telah banyak mendorong dan memberikan inspirasi untuk menulis, sehingga lahirnya karya tulis ini.

“Saya bersyukur, di pesantren at-Taqwa dikenalkan banyak pemikiran dari para ulama, khususnya pemikiran Imam al-Chazali. Juga dikenalkan pemikiran ulama dan cendekiawan muslim Nusantara, seperti Habib Utsman, Syekh Abdul Shamad al-Falimbani, KH Hasyim Asy’ari, Buya Hamka, Mohammad Natsir, dan lain-lain.”

Dan yang lebih khusus lagi, lanjut Fatih, ia banyak dikenalkan dengan pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Terlebih lagi, murid utama beliau, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, pernah mengunjungi pesantren dan memberikan ceramah kepada para santri.

Pesantren at-Taqwa Depok berdiri, didasarkan pada konsep pendidikan dari Prof. Naquib al-Attas, yaitu konsep ‘ta’dib’. Oleh Prof. Wan Mohd Nor, gagasan ta’dib itu diuraikan lebih luas dan lebih aplikatif, sehingga memudahkan untuk dipahami. “Kepada kami juga diceritakan, bahwa pendirian PRlSTAC PP At-Taqwa ini juga atas hasil konsultasi para Ustadz kami tersebut dengan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud.”

Oleh sebab itu, Fatih sebagai santri PRlSTAC, sangat bersyukur dapat memahami ide tentang adab dan ta’dib ini.
“Walaupun kami sadar, masih jauh dari yang seharusnya. Setidaknya, adab itu sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari bagi para santri di Pesantren atTaqwa Depok. Dan bagi saya pribadi, saya mendapatkan banyak manfaat yang luar biasa dari gagasan tentang adab dalam ilmu ini, karena sangat mendorong dan memperkuat semangat untuk terus belajar dan menulis.”

Fatih teringat ucapan abahnya, Ustadz Adian Husaini, bahwa usia 15 tahun adalah usia yang sudah mampu berpikir dan bersikap mandiri, baik dalam pemikiran atau tindakan. Kemandirian dan semangat tinggi dalam mencari ilmu adalah modal dasar yang penting untuk membawa mereka menjadi pemimpin sejati di masa depan.

Melalui karya tulisnya ini, Fatih berharap, buku yang ditulisnya ini bisa menjadi inspirasi, manfaat dan memotivasi bagi para santri yang lain, untuk senantiasa menghasilkan karya-karya tulis yang lebih baik lagi. “Semoga melalui buku ini, banyak manfaat, pelajaran, serta hikmah yang dapat dipetik dan diaplikasikan,” ucapnya. (des)