DEPOK (Panjimas.com) – Pondok Pesantren At-Taqwa, Depok baru saja melaunching buku pemikiran berjudul “Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia”. Buku itu bukan ditulis oleh seorang yang bergelar doktoral, melainkan seorang santri millenial yang baru berusia 16 tahun.

Penulisnya adalah Fatih Madini. Ia adalah putra kelima Ustadz Adian Husaini, yang dikenal sebagai cendekiawan muslim dan tokoh pemikiran Islam terkemuka di Indonesia.

“Awalnya, abah – begitu ia memanggil ayahnya — meminta saya untuk ngomporin teman-teman saya untuk mengumpulkan tulisan. Lalu saya kasih tulisan saya semua. Tapi saya nggak tahu kalau kumpulan tulisan saya telah diterbitkan menjadi sebuah buku. Judul bukunya pun bukan saya yang buat,” kata Fatih bercerita.

Menurut pengakuan Fatih, ia awalnya tidak suka menulis. Ia belajar menulis, saat menerjemahkan kitab sebanyak satu halaman. Ia bahkan lebih suka mengutip perkataan guru-gurunya. Setidaknya, ada dua figur yang menjadi insipirasinya. Figur itu adalah Ustadz Adian Husaini, abahnya sendiri saya. Kedua, kakaknya.

“Saya pernah membuka blog kakak saya. Setelah saya baca, ada dorongan untuk menulis. Saya berpikir, kalau kakak saya saja bisa, kenapa saya nggak bisa. Sejak itu, saya terus belajar menulis. Apa yang saya dengar dari guru saya, atau apa yang saya baca, saya tulis. Sayang, kalau nggak ditulis,” pungkas Imad, begitu ia akrab disapa.

Fatih berterus terang, ia sebetulnya seorang yang pelupa. Kalau membaca satu halaman buku, saat balik lagi, ia lupa apa yang dibaca. “Saya kalau menulis, juga tak bisa terlalu lama duduk di depan laptop. Ketika jenuh, saya berhenti sejenak, main dulu, lalu lanjut lagi membuka laptop untuk menulis. Berbeda dengan kakak saya, yang suka pantengin laptop untuk waktu yang cukup lama. Terpenting, menulis itu tidak dalam keadaan terpaksa ataupun tekanan,” tukasnya.

Sekilas Fatih Madini

Fatih Madini (16 Tahun), lahir di Depok, 9 September2002. Sejak umur l 0 tahun, berpindah dari sekolah formal, dan menjalani pendidikan non-formal tingkat Sekolah Dasar, di Pesantren Adab dan Ilmu (PADI) at-Taqwa Depok. Sejak itu, bersama empat orang teman, Fatih Madini mulai menjalani konsep pendidikan berbasis adab, di bawah bimbingan langsung Dr. Muhammad Ardiansyah. yang menulis disertasi doktor tentang konsep pendidikan berbasis Adab dari Prof. Syed Muhammad Naguib al-Attas.

Mulailah Fatih Madini dan kawan-kawan mengkaji kitab-kitab adab berbahasa Arab-Melayu, seperti Adabul lhsan dan Risalah Dua llmu karya Sayyid Utsman, mufti Betawi, di zaman Hindia Belanda. Disamping itu, ia juga belajar bahasa Inggris, jurnalistik, dan sebagainya.

Setelah itu, ia dan teman-temannya menjadi santri angkatan pertama di Pesantren Shoul-Lin al-lslami, at-Taqwa, dan dilanjutkan ke PRlSTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization). Di sini, kajian berbagai kitab adab, aqidah ilmu, fiqih dan sebagainya terus dilanjutkan. Disamping itu, di PRlSTAC, kelas Islamic Thought, para santri dididik dengan cukup intensif untuk memahami pemikiran-pemikiran kontemporer, pemikiran ulama Nusantara, dan juga diasah kemampuan komunikasi mereka, baik menulis maupun berbicara.

Melihat perkembangan intelektual, akhlak, dan kemampuan menulis para santri PRlSTAC ini, insyaAllah akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, yaitu Pesantren Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam, AT-Taqwa College.

Perguruan Tinggi non-formal ini akan menjadi tahap akhir jenjang pendidikan di Pesantren at-Taqwa Depok, untuk menyiapkan mereka, insyaAllah, menjadi kader-kader pejuang intelektual yang siap berkiprah di tengah masyarakat, dan melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang doktoral untuk mendalami bidang-bidang ilmu tertentu yang diperlukan oleh umat dan bangsa indonesia. (des)