LEBAK-BANTEN (Panjimas.com) – Tak banyak yang tahu tentang gerakan misionaris asal Korea di wilayah Lebak-Banten, khususnya di Kampung Sihandap. Berbagai cara, upaya Kristenisasi dilakukan dengan cara terselubung maupun terang-terangan.

“Sudah ada misionaris yang memberi kalung salib dan buku bergambar kepada anak-anak. Setelah kami amati, ternyata gambar-gambar yang dibagi itu membawa misi ajaran Kristen,” kata Ustaz Adung yang selama ini membentengi akidah warga muslim di Lebak-Banten.

Ternyata sudah dua tahun kelompok misionaris tinggal di sebuah Villa dikawasan itu. Setiap Sabtu ada kegiatan yang mereka gelar. Melihat ancaman akidah umat Islam di Lebak Banten, Ustaz Adung berkonsultasi dengan seorang ulama besar di Serang. Lalu jawabananya, tak membuatnya puas.

“Kami disarankan menghadapinya hanya dengan doa saja. Tapi karena kita juga bukan ahli berdoa, kami datangi lagi untuk kedua kalinya untuk konsultasi. Dengan izin Allah, kami bertemu dengan salah seorang ustaz dari kelompok Jamaah Tabligh yang tinggal di Jakarta. Lalu dikirim lah mubaligh ke kampung kami.”

Dan benar saja, di vila itu sempat akan dibangun sebuah gereja, meski pernah dikomplain oleh masyarakat setempat. Lalu selama sebulan saat bulan Ramadhan, mubaligh yang didatangkan itu secara rolling ngaji membaca Qur’an di musholla yang dilakukan secara bergilir, siap hingga malam hari. Speaker suara mengaji berhadapan dengan gereja.

“Mungkin ini pertolongan Allah, orang gereja tiba-tiba menawarkan bangunan yang hendak dijadikan gereja itu untuk dijual. Alhamdulillah, bangunan itu sudah dibeli. Atas kehendak Allah, belum lama ini, bekas bangunan yang akan dijadikan gereja itu sudah didirikan Ponpes Tahfizh, namun hingga kini pesantren belum juga selesai pembangunannya,” cerita Ustaz Adung.

Banyak cara para misionaris untuk mengkristenkan warga Baduy. Berawal dari membeli tanah-tanah warga atas nama warga setempat. “Uangnya dikasih ke orang Baduy. Kalau atas nama orang luar (Korea) memberi tanah atas nama mereka pasti dipersulit. Tapi kalo atas nama warga setempat tidak akan dipersulit.”

Cara lain upaya Kristenisasi di wilayah Lebah-Banten adalah dengan membodohi warga Baduy. “ Misionaris itu mengatakan, inilah Islam, ternyata bukan. Cara ibadahnya pun berbeda. Karena itu, diperlukan pembinaan untuk para mualaf Baduy, bukan hanya agamanya, tapi juga ekonominya. Pernah ada yang mendatangkan guru tahfizh, tapi hingga sekarang belum juga terealisasi.” (des)