JAKARTA, (Panjimas.com) – Sejarah kelam pembantaian kaum muslimin ditangan Partai Komunis Indonesia (PKI) akan terus diingat oleh bangsa Indonesia. Kebiadaban komunis di masa lalu menyegarkan ingatan kembali agar sejarah yang memilukan itu tak terulang di masa yang akan datang.

Air susu dibalas dengan air tuba, mungkin peribahasa itu mampu menggambarkan bagaimana penghianatan PKI terhadap Gus Dur ketika sudah tidak lagi menjadi Presiden Republik Indonesia.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama Masduki Baidlowi menjelaskan bahwa PBNU mempunyai banyak pengalaman jika menyinggung masalah PKI.

“Satu hal yang penting saya kemukakan adalah kyai-kyai NU termasuk sasaran yang disebut setan desa atau setan kota yang harus disingkirkan oleh PKI,” kata Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang ditayangkan di tvOne, Selasa (19/9/2017) malam.

Kepala Bidang Komunikasi MUI tersebut menuturkan, banyak sekali para kyai yang menjadi korban dari kekejaman-kekejaman yang terjadi di peristiwa-peristiwa yang kelam itu, baik di tahun 1948 atau pun di tahun 1965.

Selain itu, upaya KH. Abdurrahman Wahid memberikan jalan untuk menghapuskan berbagai diskriminasi yang dialami oleh PKI dilupakan begitu saja. Dan, setelah Gus Dur tidak lagi menjadi presiden akhirnya disomasi oleh simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tidak hanya itu, bahkan ada sebuah laporan dari Amnesty Internasional yang menuduh NU sebagai tukang jagal PKI. “Itulah sebabnya kami mengeluarkan buku secara resmi yang dikeluarkan oleh Pengurus Bensar Nahdlatul Ulama pada tahun 2014 yang lalu,” lanjutnya.

Nahdlatul Ulama (NU), menurutnya,sangat paham bahwa sejarah itu memang harus betul-betul ditulis dengan baik, sejarah itu harus dipelajari dengan baik. “Dengan mempelajari sejarah, saya kira ke depan kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran yang benar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara,” terangnya.

Baidlowi pun berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar dendam diselesaikan dan dilupakan. “Banyak sejarah yang memberikan inspirasi bahwa dendam sejarah itu tidak boleh direproduksi terus menerus.” pungkasnya. [DP]