JAKARTA (Panjimas.com) – Di tengah dinamika organisasi modern, potensi munculnya rasa paling berjasa (hero syndrome) menjadi tantangan tersendiri bagi pengurus maupun anggota. Menjawab hal tersebut, Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, Ustaz Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., menyampaikan taujihat penting mengenai pentingnya meluruskan niat dan menyadari hakikat perjuangan saat kuliah 10 menit bakda subuh di kegiatan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Agung Al-Mabrur, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Dalam pengarahannya, alumni Universitas Islam Madinah ini menegaskan bahwa sebesar apa pun pengorbanan, harta, dan waktu yang dikerahkan dalam lembaga atau gerakan dakwah, sejatinya organisasi dan Islam tidak memiliki ketergantungan pada individu. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan wadah perjuangan tersebut sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
“Banyaknya mujahadah (kesungguhan) harus membuat kita sadar bahwa ini adalah kebutuhan kita sendiri, bukan karena Islam atau Allah yang butuh kepada kita. Jangan sampai di antara kita merasa paling berjasa dan selalu menyebut-nyebut apa yang telah dilakukan,” ujarnya hadapan seribuan peserta muktamar.
Selain menyoroti ego individual, taujihat ini juga menyentuh aspek etika kepemimpinan dan relasi sesama anggota. Ustaz Yusran mengingatkan agar para kader tidak terjebak dalam sikap menghakimi anggota lain yang terhalang hadir atau berkontribusi karena adanya alasan syari (uzur).
Mengutip ikhtiar sahabat Nabi dalam menjaga persaudaraan, dia menekankan pentingnya mengedepankan prasangka baik (husnuzan) daripada sibuk membanding-bandingkan kadar kontribusi antar-individu.
“Kadang seseorang yang tidak sempat bangun tahajud namun hatinya sangat menyesal, jauh lebih baik di sisi Allah ketimbang mereka yang bangun tahajud tetapi menyebut-nyebut amalannya. Setiap pengorbanan akan kembali kepada niat dan ketakwaan masing-masing,” urainya.
Pesan otokritik ini menjadi modal utama Muktamar V Wahdah Islamiyah dalam membangun budaya organisasi yang sehat, rendah hati, dan berbasis keikhlasan sebelum melangkah pada perumusan program-program strategis ke depan.
Rep: Zulkifli .T.D.














