JAKARTA (Panjimas.com) – Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Wamenlu RI), H. Muhammad Anis Matta, Lc., memperingatkan potensi krisis ekonomi dan energi yang membayangi kawasan Asia akibat eskalasi perang hibrida (hybrid warfare) global yang kian memanas di kawasan Eropa dan Timur Tengah.
Hal tersebut disampaikan Wamenlu Anis Matta saat menyampaikan orasi geopolitik dalam Muktamar V Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (21/8/2026).
Anis memaparkan bahwa konstelasi geopolitik dunia saat ini telah memasuki fase “Perang Dunia Ketiga dalam wajah baru”. Perang supremasi antara kekuatan adidaya lama (incumbent) dan penantang baru ini tidak lagi terjadi secara langsung, melainkan melalui perang hibrida berlarut yang memanfaatkan instrumen ekonomi, siber, teknologi, hingga blokade geografis.
“Ciri perang hibrida ini adalah menciptakan masalah bagi musuh agar seluruh sumber dayanya habis dan runtuh dengan sendirinya. Dampaknya tidak terbatas pada negara yang bertikai, tetapi meluas secara regional dan global,” ujar Anis.
Salah satu dampak paling krusial yang disoroti Wamenlu adalah ancaman terhadap ketahanan energi di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan penguasaan jalur strategis seperti Selat Hormuz oleh Iran mengancam kelancaran ekspor minyak dunia.
Menurut Anis, Asia merupakan kawasan padat penduduk dan pusat industri yang sangat bergantung pada impor energi, dengan Tiga Negara Pengimpor Utama berada di kawasan ini.
“Celakanya, hampir seluruh minyak dari Timur Tengah diekspor ke Asia. Tiongkok mengimpor lebih dari 16 juta barel per hari, dan Indonesia mengimpor sekitar satu juta barel per hari. Jika pasokan dari Teluk terganggu akibat serangan militer atau blokade, Asia adalah kawasan yang paling menderita,” tegasnya.
Anis menambahkan, gangguan pada pasokan minyak dunia akan memicu dua ancaman utama bagi perekonomian nasional seperti menyebabkan pembengkakan nilai subsidi energi dan tekanan berat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan melumpuhkan sektor manufaktur nasional yang bertumpu pada pasokan energi impor dan pasar ekspor.
“Kita mendapatkan masalah yang tidak kita ciptakan, tetapi harus membayar ongkosnya. Krisis ini bersifat sistemik, berlarut, dan akan menempatkan posisi pemerintah di banyak negara semakin sulit jika tidak ada antisipasi sejak dini,” jelas Wamenlu.
Menghadapi ketidakpastian global tersebut, Anis Matta menekankan pentingnya menjaga stabilitas politik, ekonomi, dan sosial di dalam negeri. Dengan menjaga Indonesia tetap aman dan kondusif, Indonesia berpeluang menjadi tujuan utama arus modal dan investasi global (safe haven) yang mencari titik aman di tengah krisis.
“Jika kita bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dan tenang di tengah hawa perang global ini, saya percaya modal dan hal-hal baik akan mengalir ke tempat kita,” pungkasnya.















