PONOROGO (Panjimas.com)–Pembina sekaligus Pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ar-Rahman, Dr. (H.C.) KH Bachtiar Nasir, Lc., M.M., mendapat penghargaan sebagai salah satu “Alumni Istimewa” Pondok Modern Darussalam Gontor dalam momentum peringatan 100 tahun Gontor.
Penghargaan tersebut disampaikan dalam tayangan Gontor TV yang menampilkan kiprah sejumlah alumni Gontor dalam berbagai bidang. KH Bachtiar Nasir tercatat sebagai alumni Gontor tahun 1988 dan diperkenalkan sebagai tokoh yang berkiprah sebagai “Pendakwah Perkotaan”.
Ia masuk dalam jajaran alumni istimewa bersama sejumlah alumni Gontor lainnya yang dinilai telah memberikan kontribusi di berbagai bidang, termasuk dakwah, pendidikan, literasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor berlangsung pada 18-20 September 2026. Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali nilai pendidikan, pengabdian, ukhuwah, serta kiprah alumni di tengah masyarakat.
KH Bachtiar Nasir dikenal aktif dalam kegiatan dakwah dan pembinaan umat. Kiprahnya sebagai alumni Gontor juga tercatat dalam berbagai kegiatan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor.
Bagi keluarga besar STIQ Ar-Rahman atau Kampus Tadabbur Qur’an, penghargaan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus inspirasi. Nilai-nilai pendidikan Gontor yang menekankan keikhlasan, kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, dan pengabdian dinilai turut tercermin dalam kiprah KH Bachtiar Nasir dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an.
STIQ Ar-Rahman menyebut penghargaan itu sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa keberhasilan seorang alumni tidak semata-mata diukur dari pencapaian pribadi. Lebih dari itu, ilmu, nilai, dan pengabdian yang diberikan kepada masyarakat menjadi bagian penting dari kontribusi seorang alumni.
“Selamat dan tahniah kepada Dr. (H.C.) KH Bachtiar Nasir, Lc., M.M. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan, kekuatan, dan keistiqamahan dalam melanjutkan perjuangan dakwah, pendidikan, serta pembangunan peradaban berbasis Al-Qur’an,” demikian keterangan STIQ Ar-Rahman.*
















