JAKARTA, (Panjimas.com) — Menanggapi kritikan terhadap beberapa aksi mahasiswa di berbagai tempat belakangan, Koordinator Pusat (Korpus) BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Ahmad Wali Radi mengingatkan bahwa aksi mahasiswa yang mengkritik pemerintah merupakan sesuatu hal yang sangat wajar. Bahkan menurutnya sudah menjadi tugas mahasiswa untuk mengawal jalannya pemerintahan di periode siapapun.

Selain lembaga pers, Ahmad Wali Radi berpendapat kelembagaan mahasiswa merupakan salah satu suara yang paling pantas mengkritik lembaga pemerintah baik itu eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini pun tak mempermasalahkan kritikan yang dilontarkan oleh Politisi PDIP Aria Bima.

“Silakan beliau mengatakan demikian, tapi perlu dicatat mahasiswa adalah pengawal kebijakan pemerintah dari dulu sampai sekarang dan berada di posisi paling proper untuk menyampaikan kritik,” ujar Ahmad Wali Radi, dikutip dari CNNIndonesia.

Bahwa dalam aksinya pengunjuk rasa dari BEM UIR memakai cara yang kurang populer, Ahmad menilai hal itu bersifat relatif. Ia merasa dalam setiap pergerakan, baik itu di daerah, kota, ataupun di luar negeri, perbedaan metode dalam berunjuk rasa merupakan keniscayaan.

“Maka kami tidak bisa membenarkan atau menyalahkan mereka,” imbuh Ahmad.

Massa BEM UIR yang dikabarkan mencapai ribuan orang kemudian merangsek masuk ke kantor DPRD Riau dan menduduki ruang rapat paripurna.

Setelah menduduki ruang rapat paripurna, mahasiswa menyerahkan petisi berisi tuntutan mereka agar pemerintah menstabilkan perekenomian negara, tidak membatasi hak demokrasi masyarakat, dan menuntaskan kasus korupsi PLTU Riau I.

Aria Bima mengkritik aksi itu dan menyarankan mahasiswa tak sekadar ikut-ikutan dalam berunjuk rasa tanpa melakukan kajian literatur yang mendalam terlebih dahulu.[IZ]