BEKASI (Panjimas.com) – Dalam acara Tabligh Akbar yang digelar BPM Al Falah bekerja sama dengan PC Muhammadiyah Bekasi Timur II, Ketua Komite Dakwah Khusus Majelis Ulama Indonesia (KDK MUI) Pusat, Ustaz Abu Deedat mengungkap sejarah Hari Raya Valentine, mulai dari cinta kasih hingga hubungan seks di kalangan remaja.

Menurut ustaz Abu Deedat, peringatan hari Valentine bukanlah berasal dari agama Islam. Hari Raya Valentine dilakukan dalam rangka mengenang jasa Santo Valentinus yang tewas dalam rangka membela kasih sayang.

“Namun, menurut wikipedia kisah Santo ini tidak lebih dari legenda yang dibuat dalam Chatolic Encyclopedia 1908,” kata ustaz Abu Deedat dalam acara Tabligh Akbar yang mengusung tema ‘Berkasih Sayang yang Abadi: No Valentine, No Cry!’ di Masjid Al Falah, Bekasi, Ahad (10/2) pagi.

Ketua Umum Tim Fakta itu menjelaskan, bahwa hari Valentine tidak ada hubungannya dengan kasih sayang. Sebab, nama Valentinus yang merujuk kepada tiga Santo, yaitu pastur di Romawi, uskup di Terni, dan Martir di Romawi Afrika sebenarnya tidak memiliki hubungan yang jelas dengan kasih sayang.

“Makanya tidak ada hubungannya nama Valentinus dengan kasih sayang. Valentine itu artinya bukan kasih sayang. Bahkan, Paus Gelasius II (496 M) menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang mengetahui tentang tiga tokoh Kristen ini,” terang ustaz Abu Deedat.

Dosen Kristologi STID Al Hikmah itu kemudian mengungkap motif politis dibalik keberlangsungan perayaan Hari Raya Valentine pada masa Paus Gelasius II.

“Ia (Paus) tetap memperingati hari ini (Valentine) sebagai hari raya peringatan St. Valentinus untuk mengungguli Hari R.aya Lupercalia (Hari Raya Romawi Kuno) yang biasa dirayakan pada tanggal 15 Februari,” tutur ustaz Abu Deedat.

Bicara soal hubungan percintaan pada perayaan Valentine, ustaz Abu Deedat mengatakan bahwa hal itu tidak terlepas dari munculnya legenda-legenda tentang tokoh Valentinus di Eropa dan sejarah hari Valentine.

Sejarah Valentine Day oleh Gereja Katholik dijadikan hari kasih sayang untuk mengenang hari jadi Santo Valentinus, putera seorang petani yang menjadi Uskup Roma pada abad IV silam.

Gereja Katholik menilai Uskup Valentinus adalah uskup yang mencintai lingkungan hidup dan mampu berbagi kasih kepada semua binatang yang ditemui.

Karena jiwa kasih sayangnya, Uskup Valentinus ditetapkan sebagai sosok pecinta lingkungan dan ditetapkan hari lahirnya sebagai hari kasih sayang, yaitu 14 Februari. Oleh karena itu, setiap tahun Gereja Katholik melakukan misa khusus untuk memperingati Santo Valentinus.

“Namun tidak bagi para kawula muda, dalam kenyataan mereka malah menjadikan hari Valentine ini sebagai hari kasih sayang untuk sesama manusia. Muda-mudi menjadikan ajang ini sebagai moment untuk mencari jodoh atau sebagai moment pengikat cinta, berpelukan dengan lawan jenisnya,” jelas ustaz Abu Dedat.

Dengan demikian, Sekretaris MUI Kota Bekasi itu menjelaskan bahwa budaya Valentine jelas bukan bersumber dari agama Islam melainkan budaya orang kafir. Karenanya, umat Islam dilarang untuk mengikutinya. Kemudian ustaz Abu Dedat menyebutkan sejumlah hadits Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termaduk bagian dari mereka.” [HR. Ahmad dan Abu Daud]

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu’anhuma berkata: “Barangsiapa membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” [Sunan Al Baihaqi]. [DP]