• About Us
  • Archives
  • Blog
  • Contact
  • Copyright
  • Disclaimer
  • Donation
  • Full Width Page
  • Home
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
No Result
View All Result
Panjimas
Advertisement
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
No Result
View All Result
Panjimas
No Result
View All Result
Home NEWS Nasional

Tepung Tawar, Jejak Akulturasi Agama dan Budaya

22 Dec 2022
in Nasional, NEWS
Reading Time: 3 mins read
A A
Tepung Tawar, Jejak Akulturasi Agama dan Budaya
0
SHARES
44
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Medan, Panjimas – Salah satu tradisi khas Melayu yang sampai kini masih terjaga adalah tradisi tepung tawar.  Tradisi tepung tawar menggambarkan jejak akuturasi dari sejarah Agama Islam dan Budaya Melayu.

“Islam dan budaya Melayu adalah jejak sejarah akulturasi yang damai dan indah,” ujar pengamat budaya Sumatera Utara (Sumut), Mahyar Diani.

Menurutnya,  Setelah Islam menyebar di tanah Melayu, corak kebudayaan orang Melayu yang dahulu bersifat Hindu-Buddha berubah menuju kebudayaan Islam (Junaidi, 2014:2).

Pengaruh Islam terhadap kebudayaan Melayu dapat ditemukan dalam tradisi, pemikiran dan kesusastraan Melayu hingga akhirnya Islam dijadikan azas utama kebudayaan Melayu Salah satu warisan budaya Melayu yang secara jelas memperlihatkan perpaduan Islam dan kebudayaan Melayu adalah lewat tradisi tepung tawar.

Bagi masyarakat Melayu Langkat tradisi tepung tawar adalah bagian penting dalam rangkain proses upacara adat. Tepung tawar merupakan suatu prosesi dan simbolik (artefak) yang diwariskan oleh pendahulu yang diturunkan ke generasi berikutnya sampai saat ini
Bagi masyarakat Melayu, turut aktif dan terlibat dalam setiap upacara yang mengandung nilai tradisi adat Melayu, seperti syukuran (selamatan), pernikahan, mengkhitan (salah satunya tradisi tepung tawar) adalah kebiasaan yang sudah menjadi adat.

Berdasarkan penuturan salah seorang tokoh masyarakat  Langkat, Ibnu Hajar (81 thn) atau biasa disapa Atuk/Atok Olong Benu, tradisi tepung tawar biasa dilakukan di berbagai upacara adat atau perayaan penting seperti pernikahan, khitan, tasyakuran (syukuran), aqiqah, dan sejenis itu.

Terdapat rangkaian pelaksanaan tepung tawar yang harus diperhatikan seperti perlengkapannya ramuan penabur, ramuan rinjisan, dan pedupaan yang setiap bahannya diambil dari jenis-jenis tumbuhan tertentu yang punya erti (nilai/arti), diiringi dengan Shalawat Nabi dan Rabbana Marhaban saat proses tepung tawar berlangsung.

Para tetua (leluhur) terdahulu memaknai tradisi tepung tawar sebagai perpaduan nilai religius dan nilai budaya yang diyakini sebagai “sesuatu yang suci” (memiliki makna khusus kebahagiaan, keselamatan, kebaikan, kekuatan) dan “adi-kodrati”.

“Seiring berjalan waktu, data empiris yang saya temukan menunjukkan bahwa tepung tawar yang dahulu diyakini sebagai “sesuatu yang suci” dan “adi-kodrati” kini mengalami pergeseran makna namun masih tetap menjadi bagian penting dalam keberlangsungan tradisi budaya Melayu Langkat hingga saat ini,” katanya.

Dengan kata lain, tepung tawar bukan lagi semata dimaknai sebagai sesuatu yang berkaitan dengan nilai religius ataupun perantara hubungan manusia dengan Sang Pencipta, seperti yang dimaksud oleh para tetua (leluhur), melainkan telah dipandang menjadi nilai “warisan harta budaya” yang berharga.

Kini tepung tawar dimaknai sebagai tradisi budaya Melayu lama (budaya Melayu asli leluhur) yang harus dijaga, dilestarikan sebagai simbol “kejayaan warisan Melayu”. sebab hal inilah yang mampu merepresentasikan eksistensi komunitas masyarakat Melayu dengan identitas Islam “ke-melayu-an” mereka sampai kapan pun.

Bahkan lebih jauh, menjadi nilai “kearifan lokal” yang diteruskan secara historis dan turun-temurun kepada generasi berikutnya lewat simbol-simbol milik bersama (kolektif) dan seolah menjadi “nilai komunal” bagi masyarakat Melayu Langkat.

Hal ini mungkin yang dimaksudkan oleh Geertz terkait agama dan kebudayaan, ia memiliki dasar pemikiran bahwa agama bukan sekedar sebuah ideologi hasil rekayasa dunia sosial belaka
Inilah mengapa Geertz berpendapat, dalam menafsirkan agama dan kebudayaan dalam dinamika masyarakat perlu dilakukan pendeskripsian yang sifatnya mendalam (thick description) sebab ada makna eksplisit dan implisit yang terkandung.

Secara eksplisit tradisi ini bisa dilihat sebagai pengejawantahan, mengenalkan, dan melestarikan keindahan budaya Melayu hingga anak-cucu yang menjadi “nilai komunal”, serta pengetahuan manusia yang berkaitan dengan pemanfaatan tumbuhan yang bersifat “bumi”. Sedangkan secara implisit, tradisi tepung tawar ini dapat dikatakan sebuah prosesi budaya yang mengandung banyak nilai simbol (sistem sosial) yakni harmonisasi, relasi

Melalui prosesi tepung tawar, kita dapat mengetahui silsilah keluarga Ayah-Ibu (orang tua) mulai dari keluarga yang dipandang “di-tua-kan” dan dihormati hingga sampai yang termuda, serta mengajarkan untuk tetap menjaga ukhwah Islamiyah, tali silaturrahmi sesama saudara.

Bagi masyarakat Melayu Langkat, jelas tidak bisa disetarakan antara agama dengan budaya (tradisi), keduanya memiliki posisi dan proporsi berbeda. Menjunjung nilai Islam adalah kewajiban utama, lalu aplikasi nilai budaya (tradisi) adat Melayu harus jelas bernapaskan Islam. Maka banyak budaya lokal, seperti pandangan hidup, adat-istiadat, kesenian, dan tentu saja tepung tawar tidak dihilangkan melainkan diberikan napas Islam.

Inilah mungkin yang melahirkan ungkapan di tengah masyarakat Melayu “Agama Islam tetap utama, budaya Melayu harus kita jaga, agar tak kan hilang Melayu di Bumi”.

Terlihat begitu pentingnya nilai Islam bagi masyarakat Melayu Langkat yakni sebagai bimbingan moral, harmoni dan keseimbangan dalam menata kehidupan dan interaksi sosial dalam masyarakat walau di tengah kuatnya tekanan modernisasi globalisasi.

Seperti halnya pengaplikasian tradisi tepung tawar, aspek penekanan nilai Islam harus diutamakan agar tidak terjadi “kesesatan”(syirik). Dalam artian, tradisi tepung tawar harus diposisikan sebatas aktivitas kultural semata, untuk melestarikan tradisi budaya, membangun interaksi sosial antara masyarakat juga tanpa menyelipkan “niat/keyakinan” khusus dalam prosesnya.

Tags: Akulturasi budaya dan agamaMelayu LangkatTepung Tawar
ShareTweetSend
Previous Post

Tak Hanya Penganut Katolik yang Mengais Rezeki di Gua Maria

Next Post

Anwar Abbas : Belajar Dari Kemarahan Bupati Meranti dan Arti Pentingnya Komunikasi dan Transparansi

Next Post
Anwar Abbas : Belajar Dari Kemarahan Bupati Meranti dan Arti Pentingnya Komunikasi dan Transparansi

Anwar Abbas : Belajar Dari Kemarahan Bupati Meranti dan Arti Pentingnya Komunikasi dan Transparansi

Merespon Usulan Ketua MUI Tentang Dicabutnya Subsidi Haji, Dirjen PHU : Boleh, Tapi Ga Bisa kebanyakan

Merespon Usulan Ketua MUI Tentang Dicabutnya Subsidi Haji, Dirjen PHU : Boleh, Tapi Ga Bisa kebanyakan

Ketum PP Muhammadiyah Kembali Sampaikan Bahwa Indonesia Bukan Negara Agama, Tapi Juga Bukan Negara Sekuler

Ketum PP Muhammadiyah Kembali Sampaikan Bahwa Indonesia Bukan Negara Agama, Tapi Juga Bukan Negara Sekuler

  • Latest
  • Popular
Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

8 Mar 2024
Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

18 Mar 2024
Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

20 Nov 2025
Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

31 Oct 2025
Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

27 Oct 2025
Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Desak TRANS7 Minta Maaf, Terkait Konten Merendahkan Kiai dan Pesantren

16 Oct 2025
Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

13 Oct 2025
130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

12 Oct 2025
Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

11 Oct 2025
Tepung Tawar, Jejak Akulturasi Agama dan Budaya

Tepung Tawar, Jejak Akulturasi Agama dan Budaya

50 Ciri Gangguan Jin

50 Ciri Gangguan Jin

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Copyright
  • Donation
  • Pedoman Media Siber

Seluruh materi baik artikel, berita, foto, video maupun logo dalam situs Panjimas.com bebas copy untuk keperluan dakwah dan referensi non-komersial, dengan mencantumkan sumbernya (Panjimas.com).Anda bisa turut berdakwah dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Email: [email protected] | Telp/SMS: 0812 60000 560

Copyright © 2026 — Panjimas. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi

Copyright © 2019
Panjimas. All Rights Reserved.