TAMBUN SELATAN (Panjimas.com)–Badan Gizi Nasional (BGN) melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mulai memberi dampak nyata terhadap ekosistem ekonomi masyarakat. Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG tidak hanya menyediakan makanan bergizi bagi pelajar, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Salah satu dampak itu dirasakan di SPPG Mangunjaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang mulai beroperasi sejak pertengahan Desember 2025.
Pengelola SPPG Mangunjaya, Rohmad, mengatakan dapur MBG yang dipimpinnya kini menyerap sekitar 47 tenaga kerja lokal dari lingkungan sekitar. Para pekerja berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai lulusan SD hingga sarjana.
“Alhamdulillah menyerap warga sekitar. Bahkan banyak yang antre ingin jadi relawan di sini,” kata Rohmad saat ditemui di dapur MBG di Jalan Raya Pendidikan, Desa Mangunjaya, Tambun Selatan, Rabu (6/5/2026) lalu.
Menurut dia, antusiasme warga cukup tinggi karena program tersebut dianggap membantu mengurangi pengangguran di wilayah setempat. Ia mengaku sejumlah pekerja bahkan merasa kehilangan penghasilan ketika operasional dapur libur.
SPPG Mangunjaya saat ini melayani sekitar 2.400 porsi makanan setiap hari untuk 12 lembaga pendidikan dan layanan kesehatan, mulai dari PAUD, SD, SMP hingga Posyandu.
Tak hanya menyerap tenaga kerja, keberadaan dapur MBG juga mendorong perputaran ekonomi UMKM lokal. Rohmad menyebut kebutuhan bahan baku harian dipasok dari pelaku usaha sekitar, seperti pemasok tahu, tempe, ikan lele, beras hingga gas dan air bersih.
“Ekonomi masyarakat sekitar jadi hidup. UMKM sangat merasakan dampaknya karena suplai dilakukan setiap hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan UMKM sebagai pemasok turut menciptakan efek berantai terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor lain.
“Supplier juga menambah karyawan karena mereka tidak hanya menyuplai satu dapur saja,” katanya.
Di tengah sorotan publik terhadap kualitas dan higienitas makanan MBG, Rohmad memastikan pihaknya menerapkan prosedur operasional standar (SOP) secara ketat. Setiap pekerja diwajibkan mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri (APD) sebelum masuk area dapur.
Selain itu, kebersihan ruangan dijaga secara rutin dengan sistem tanggung jawab bersama di setiap area kerja.
“Kalau SOP dijalankan dengan benar, insyaallah kasus makanan basi tidak akan terjadi,” ujarnya.
Rohmad juga memastikan bahan baku yang digunakan berasal dari pemasok bersertifikat halal. Menurutnya, aspek halal dan higienitas menjadi perhatian utama dalam operasional dapur MBG.
Ke depan, ia berharap program-program berbasis pemberdayaan masyarakat seperti MBG terus diperluas karena dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi warga, terutama bagi pelaku UMKM dan ibu rumah tangga.
“UMKM ini tonggak ekonomi masyarakat kecil. Kami berharap program seperti ini terus dikembangkan,” katanya.*















