JAKARTA (Panjimas.com)–Al Jam’iyatul Washliyah menyiapkan agenda penguatan ekonomi umat dalam Muktamar XXIII yang akan digelar pada 7-10 Juli 2026 di Asrama Haji Pondok Gede. Isu ekonomi dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi gerakan dakwah organisasi Islam di tengah tantangan sosial dan politik saat ini.
Ketua Umum PB Al Washliyah, KH Masyhuril Khamis, mengatakan dakwah saat ini tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan konvensional, tetapi juga harus menyentuh aspek kesejahteraan umat.
“Dakwah kita sekarang tidak bisa lagi dari pintu ke pintu. Harus dari dapur,” ujar Kiai Masyhuril dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Menurut dia, organisasi Islam perlu menjadikan penguatan ekonomi sebagai agenda utama selain pembinaan akidah dan akhlak. Ia menilai banyak generasi muda terjebak pada orientasi politik praktis, sementara penguatan kapasitas ekonomi umat belum mendapat perhatian memadai.
Karena itu, PB Al Washliyah berencana memasukkan materi kewirausahaan atau entrepreneur sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan organisasi tersebut. Langkah itu diharapkan dapat membentuk pola pikir kemandirian ekonomi sejak dini.
“Entrepreneur harus menjadi materi yang disampaikan kepada anak didik. Jadi mindset-nya kita masukkan sejak awal,” katanya.
Dalam pembahasan muktamar nanti, lanjut dia, konsep kewirausahaan akan dirancang berjenjang mulai tingkat SD hingga SMA. Dengan demikian, lulusan sekolah di lingkungan Al Washliyah diharapkan tetap memiliki keterampilan ekonomi meski tidak melanjutkan pendidikan tinggi.
Selain kewirausahaan, isu halal dan koperasi juga akan menjadi bagian dari pengembangan kurikulum. Menurut Kiai Masyhuril, pemahaman halal tidak hanya terkait makanan, tetapi juga menyangkut ekosistem ekonomi umat secara luas.
Ia menyebut Al Washliyah saat ini telah memiliki koperasi dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi organisasi.
“Kita punya SDM, tapi memang tantangannya modal. Karena itu nanti akan kita kerja samakan dengan UMKM dan Kementerian Koperasi,” ujarnya.
PB Al Washliyah juga menyiapkan program pengembangan mahasiswa asal daerah untuk dibina di kampus-kampus milik organisasi. Setelah lulus, mereka diharapkan kembali ke daerah masing-masing guna membangun basis ekonomi dan dakwah di masyarakat.
Muktamar XXIII Al Washliyah diperkirakan dihadiri sekitar 1.000 peserta yang berasal dari 254 daerah serta unsur lembaga internal organisasi.
Panitia juga menyiapkan sejumlah skenario terkait kehadiran Presiden RI dalam pembukaan muktamar. Pada rencana utama, Presiden diharapkan hadir langsung dalam agenda di Jakarta Convention Center. Jika tidak memungkinkan, pengurus akan mengupayakan pertemuan di Istana Kepresidenan. Adapun opsi terakhir ialah penyampaian sambutan Presiden melalui video.*














