BEKASI (Panjimas.com)–Buku biografi “Abah Dahlan: Urat Nadi Perlawanan, Menjaga Nalar Arus Bawah” resmi diluncurkan pada Ahad (28/6/2026) di Pesantren Terpadu Daarul Fikri, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Peluncuran buku yang mengisahkan perjalanan hidup almarhum KH Muhammad Dahlan (1944-2025) itu dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Ahmad Syaikhu, Abdullah Hehamahua, serta Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Budi Muhammad Mustafa.
Putra almarhum, KH Ahmad Husein Dahlan, mengatakan penulisan biografi tersebut merupakan bentuk bakti keluarga untuk mengabadikan perjuangan ayahnya dalam membina umat, menegakkan akidah, dan mengembangkan pendidikan Islam.
Menurutnya, pemilihan kata “Perlawanan” dalam judul buku sempat memunculkan perdebatan. Namun, istilah itu akhirnya dipilih karena dinilai paling tepat menggambarkan keteguhan KH Muhammad Dahlan dalam melawan praktik-praktik kemusyrikan yang masih berkembang di masyarakat.
Ia menuturkan, KH Muhammad Dahlan rela menghentikan pendidikan formal demi merawat ibundanya yang sakit. Keputusan tersebut justru menjadi awal pengabdian kepada masyarakat. Di Kampung Warung Bambu, beliau aktif mengajak warga meninggalkan paham animisme dan dinamisme serta menegaskan bahwa hanya Allah SWT tempat bergantung.
Selain berdakwah, KH Muhammad Dahlan menggerakkan para pemuda mengumpulkan dana dari hasil bekerja di sawah untuk mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar. Dana itu bahkan diputar melalui pinjaman kepada masyarakat agar terhindar dari praktik ijon sebelum akhirnya digunakan membangun madrasah.
Dalam perjalanan menuntut ilmu, KH Muhammad Dahlan juga dikenal sebagai khadim almarhum KH Noer Ali. Menurut Ahmad Husein, sang ayah rela mengabdi tanpa mengharapkan imbalan demi memperoleh ilmu, pengalaman, dan nasihat dari ulama yang sangat dihormatinya tersebut.
Perjuangan itu kemudian berlanjut dengan berdirinya Al-Imaroh dan Pesantren Terpadu Darul Fikri. Ahmad Husein menegaskan pesantren harus terus berkembang mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang mandiri dan berorientasi pada pembinaan akhlak.
Sementara itu, mantan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua, mengenang kedekatannya dengan almarhum yang telah terjalin sejak era 1980-an melalui jejaring aktivis Islam. Menurutnya, meski KH Muhammad Dahlan tidak menempuh pendidikan tinggi, beliau memiliki keluasan berpikir yang luar biasa.
Abdullah menilai hal itu tercermin dari keberhasilan KH Muhammad Dahlan membangun lembaga pendidikan mulai dari Madrasah Mathla’ul Anwar, Al-I’marah hingga Pesantren Terpadu Daarul Fikri. Menurutnya, kecerdasan dalam perspektif Alquran tidak diukur dari gelar akademik, melainkan dari kedekatan kepada Allah SWT, semangat menuntut ilmu, serta kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
“Beliau tidak tamat universitas, tetapi mampu melahirkan konsep pendidikan yang besar. Alquran mengajarkan bahwa orang cerdas tidak identik dengan sarjana,” ujar Abdullah.
Ia juga mengajak keluarga dan seluruh pengelola lembaga pendidikan yang diwariskan KH Muhammad Dahlan untuk menjaga serta mengembangkan amanah tersebut dengan mencetak lebih banyak pemimpin, ulama, ustaz, dan ustazah bagi masa depan bangsa.
Pada kesempatan yang sama, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Syaikhu, menggambarkan KH Muhammad Dahlan sebagai sosok yang rendah hati, tetapi memiliki prinsip perjuangan yang sangat kuat. Menurutnya, almarhum mampu menjalin hubungan dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan idealisme.
Syaikhu menilai visi besar KH Muhammad Dahlan tampak dari konsistensinya membangun lembaga-lembaga pendidikan sebagai tempat menyiapkan generasi penerus. Baginya, pembangunan peradaban tidak mungkin dilakukan oleh satu orang, melainkan melalui proses panjang mencetak calon-calon pemimpin.
“Pemimpin hebat bukanlah mereka yang memiliki banyak pengikut, tetapi mereka yang berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin baru,” kata Syaikhu.
Ia berharap terbitnya buku Abah Dahlan: Urat Nadi Perlawanan, Menjaga Nalar Arus Bawah menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk melanjutkan semangat dakwah, pendidikan, dan pengabdian yang telah diwariskan almarhum, sehingga amal jariyahnya terus mengalir melalui lahirnya generasi pemimpin yang berilmu dan berakhlak.*
















