(Panjimas.com) – Korea adalah Negara yang hari kemerdekaannya hanya selang 2 hari saja (15 agustus 1945)  dengan Indonesia, tapi pertumbuhan ekonomi dan teknologinya jauh melampaui Indonesia. Korea adalah negara dengan budaya dan bentang alam yang indah. Negara yang terkenal dengan serial dramanya yang memukau dan bintang bintangnya yang memanjakan mata. Negara yang terkenal dengan budaya Kpop-nya.

Masing masing orang, tentu punya imajinasi tersendiri tentang korea. Bagi mereka penyuka drama korea, mungkin mereka akan berimajinasi bahwa orang korea adalah orang yang romantis dan manis. Bagi yang suka Kpop, mereka akan berimajinasi bahwa orang korea pandai menari, energik, tinggi, kurus, dan wajah seperti boneka.

Ya. Korea memang dikenal sebagai negara maju yang mampu mengkombinasikan teknologi, budaya dan hiburan menjadi sebuah gelombang budaya yang dikenal dengan Istilah Korean Wave atau Hallyu.

Salah satu bagian dari Hallyu adalah Kpop yang eksistensinya benar-benar telah membius dan menghipnotis sebagaian besar masyarakat Indonesia, terutama para remaja.

Download lagu dan MV terbaru dari boyband dan girlband idola begitu sangat menyenangkan meskipun harus menghabiskan kuota yang besar. Berburu merchandise boyband dan girlband idola mulai dari CD, lightstik, poster, jaket, topi dan seabrek pernak pernik yang berhubungan dengan KPop menjadi sebuah sensasi tersendiri bagi KPopers. Bahkan tidak jarang, ada diantara mereka yg berburu merchandise hingga ke korea langsung. Jika boyband atau girlband favoritnya konser di Indonesia, Kpopers rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli tiket konser dengan kisaran harga 500.000 sampai 2 juta per tiket. Sebuah hobi yang menguras uang bukan?

Tidak cukup itu saja. Untuk memjadi fans Kpop sejati, banyak dari kalangan remaja Indonesia yang masuk kedalam komunitas penggemar atau sering disebut dengan istilah Fandom (fans kingdom).Masing masing girlband dan boyband punya nama fandom sendiri. Misalnya saja SONE sebutan untuk fans Girl Generation atau SNSD, ELF sebutan untuk fans Super Junior, ARMY sebutan untuk fans BTS, Blink sebutan untuk fans blackpink dan masih banyak fandom yang lain.

Rata rata, para fans yang tergabung dalam sebuah fandom adalah mereka yang sangat fanatik terhadap idolanya. Mereka tidak rela jika idolanya berpacaran atau sekedar berkencan dengan lawan jenis. Mereka justru lebih suka idolanya menyukai sesama jenis. Atau berpacaran dengan sesama member 1 grup. Gila bukan? Fanatisme gila yang mengantarkan pada pemikiran dan perbuatan gila.

Hal ini lah yang menggejala dikalangan Kpoper saat ini. Banyak Kpopers yang tertarik membuat Fan Fiction dalam bentuk cerpen atau anime yang isinya sarat dengan ide LGBT hingga muncul istilah ” fujoshi”, ” fudanshi”, dan lain sebagainya.

Ditambah lagi dengan kampanye terselubung tentang LGBT di MV (Music Video) beberapa girlband dan boyband korea, hal ini semakin memperparah dunia Kpop. Setidaknya, ada beberapa MV (Music Video) boyband, girlband korea yang terindikasi mengkampanyekan LGBT. Mereka adalah Red Velvet, K Will, Brown Eyed Girls, Sistar, After School.

Hal ini adalah bukti bahwa indahnya dunia Fandom KPop ternyata menyimpan fakta yang mengerikan. Bagaimana hal ini bisa terjadi,apa yang melatarbelakanginya?

Produk Hegemoni Barat

Dr Adian Husaini, peneliti pemikiran dari INSIST, mengatakan, maraknya idolaisasi terhadap hiburan inport (dalam hal ini Korea), merupakan sebuah bukti bahwa betapa kuat arus globalisasi dalam bidang hiburan, yang mana globalisasi mengarah pada “imperialisme Budaya” Barat terhadap budaya lain.

Inilah yang kemudian disebut dengan hegemoni Barat. Hegemoni adalah mengendalikan negara bawahannya melalui imperialisme budaya, misalnya bahasa (lingua franca penguasa) dan birokrasi (sosial, ekonomi, pendidikan, pemerintahan), untuk memformalkan dominasinya. Hal ini membuat kekuasaan tidak bergantung pada seseorang, melainkan pada aturan tindakan.

Menurut Antonio Gramsci bahwa dominasi Barat terhadap budaya di negara-negara berkembang, bertujuan untuk memaksa negara berkembang agar terpaksa mengadopsi budaya Barat. Sedangkan bagi Dr Adian, salah satu misi dari hegemoni Barat terutama Amerika ialah mengekspor moderintas dan memprogandakan konsumerisme.

Tujuan hegemoni Barat terhadap bangsa lain adalah untuk melanggenkan dominasi peradabannya.

Dekonstruksi Aqidah

Demam Korean Wave dalam hal ini K-Pop, merupakan bahaya laten bagi umat Islam. Hal ini disebabkan KPop, selain mencemari tradisi budaya Indonesia yang terkenal santun, juga merusak sendi-sendi akhlak dan mendonstruksi prinsip-prinsip dalam Agama.

KPop sebagai produk globalisasi dalam bidang Fun atau hiburan, telah mengikis akhlak umat Islam. Kehidupan borjuistis ala musik K-Pop, semangat hidonis dan matrealistis, serta pakian minim dalam model busananya, menggeser pola pikir para penikmatnya. Hal itu kemudian menjadi gelombang trend besar-besaran seluruh masyarakat.

Tengok saja remaja muslim sekarang, dari penampilan sampai mindset, pelan tapi pasti telah berubah ala KPop. Seolah tersihir dengan performance artis Korea, setiap hal baru yang datang dari mereka dianggap positif dan selalu diup -date. Bahkan perilaku menyimpang LGBT yang dipertontonkan di MV idol grup Korea yang jelas-jelas haram, dikatakan baik dan boleh dilakukan.

Jika dikaji dalam perspektif hukum Islam, gelombang KPop tidak saja bisa mengikis akhlak umat Islam, tapi juga akan mendekonstruksi keimanan. Hal ini disebabkan karena adanya tasabbuh (meniru-niru) dengan menjadikannya sebagai artis ideola, padahal semua tindak-tanduk, kepribadian dan perilaku sehari-harinya menyebabkan seorang muslim menjadi munafik atau keluar dari akhlak Islam.

Sebuah peringatan keras dalam al-Qur’an bagi mereka yang menjadikan idola selain orang Islam akan dibangsakan sebagai orang munafik. Firman Allah An Nisaa Ayat 138 – 140:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

Menurut Ibn Katsir dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan lafadz “auliya’” itu bermakna penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola. Adanya rasa simpatik dan empatik dalam hati karena menjadikan penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola ghairul muslim, bisa menyebabkan lunturnya iman seseorang dan bisa mengkonversi dari mukmin menjadi munafiq.

Kelompok munafik adalah sejelek-jeleknya umat. Mereka lebih hina daripada orang kafir. Siksaan bagi munafikin-pun lebih pedih, bahkan mereka ditaruh di dasar neraka (inna al-munaafiqina fi al-darki al-asfal mi al-naar).

Oleh karenanya dalam QS. an-Nisaa’ 144, Allah melarang orang-orang beriman untuk mengidolakan orang-orang kafir. Karena hal itu sama saja dengan mengundang kemurkaan Allah yang siap dengan siksaan-Nya. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).” (QS: Al-Nisaa’. 144).

Ternyata gelombang Korean Wave yang diwakili KPop bukan permasalahan sepele, sebatas gandrung menikmati musik dan mengidolakan artis saja. Disamping produk hegemoni Barat, lebih dari itu, gelombang KPop telah membawah problem yang serius bagi umat Islam, problem yang menyebabkan dekadensi akhlak dan dekonstruksi aqidah alias rusaknya akidah.

Karenanya, segenap kaum Muslimin, mari kita rapatkan barisan, guna membentengi umat dari serangan virus yang lahir dari globalisasi-modernisasi Barat. Yang tanpa sadar, keberedaannya dapat menghapus nilai-nilai ajaran agama. Serta memalingkan pengikutnya dan tidak akan kembali. Bak anak panah, ia terlepar dari busurnya. Wallahu ‘a’lam bi shawwab.[RN]

 

Penulis, Hafidhah Silmi S.AP

Alumni Kebijakan Publik Universitas Brawijaya