• About Us
  • Archives
  • Blog
  • Contact
  • Copyright
  • Disclaimer
  • Donation
  • Full Width Page
  • Home
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
No Result
View All Result
Panjimas
Advertisement
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
No Result
View All Result
Panjimas
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Istilah “Post-Truth” Harus Ditolak

10 Mar 2024
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
A A
Istilah “Post-Truth” Harus Ditolak
0
SHARES
26
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Yons Achmad, Pengamat media

(Panjimas.com) — Saya sebenarnya agak alergi dengan sesuatu yang berbau “Post”. Bahkan kalau itu misalnya “Post Islamisme” sekalipun. Saya menolak “Post Islamisme”. Kenapa? Bagi saya, “penganut” “Post Islamisme” semacam makhluk yang tergesa-gesa dalam mengeksplorasi gagasan Islam untuk perubahan. Ketidaksabaran dalam pergerakan menjadikan mereka kurang percaya diri dengan gagasan “Islamis” yang sekian lama dipercaya membawa angin perubahan.

Gagasan “Post Islamisme” saya kira bakal gagal. Kenapa? Karena hanya bisa terombang-ambing, tak jelas mau ke mana. Lagi pula, mereka toh tak berani melangkah jauh ke pulau misalnya “Sekularisme”. Hasilnya, “Post Islamisme” hanya istilah yang tampak mewah, tapi sebenarnya stagnan, tidak jelas arahnya dan malah bakal kehilangan identitas otentiknya. Bagi saya “Islamisme” tetap masih relevan dan belum menemui jalan buntu. Walau, apa boleh buat, kerap mendapat cibiran, nyinyiran plus stigma konservatif ketika “wacana” itu masih digulirkan.

Kini, muncul lagi diskursus mengenai “Post Truth” (pasca kebenaran). Apa-apaan ini? Dan lagi-lagi, mohon maaf, saya menolaknya. Tentang “Post Truth” sendiri, saya akui hanya sedikit membaca referensi terkait dengan itu. Hanya, saya sempat hadir dalam sebuah seminar di FIB Universitas Indonesia (UI) dan sedikit mendapat pencerahan tentang apa itu “Post Truth”.

Haryatmoko, sebagai pembicara, mengutip J.A Llorente (2017) dalam “The Post-Truth Era” menjelaskan “Post Truth” sebagai iklim sosial politik di mana obyektifitas dan rasionalitas membiarkan emosi atau hasrat memihak keyakinan meskipun sebetulnya fakta menunjukkan hal yang berbeda. Era “Post-Truth” mendapat momentumnya karena massa jenuh dan membenci limpahan pesan dan rayuan: semua berujung meminta untuk membeli, mengonsumsi, memilih, memberi pendapat atau bagian di kehidupan sosial.

Penjelasan lebih “ringan” lagi bisa dilihat dalam Kamus Oxford yang menyebut kata “Post-Truth” sebagai “kata tahun ini”. Dari kamus Oxford itu, “Post Truth” didefinisikan sebagai situasi di mana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang obyektif. Dari definisi demikian, maka wajar ketika kemudian beberapa pakar meyakini bahwa hoaks adalah anak kandung era “Post-Truth”. Bahwa kabar bohong kemudian menjadi wajah paling nyata dari “Post Truth” itu sendiri.

Kini, kita berada diera ini. Itu sebabnya, saya kira, kita mesti kembali ke wajah semula, wajah kebenaran. Dan, ketika bicara kebenaran, filsafat barangkali menjadi “sosok” agung yang bakal membawa manusia menuju kebenaran.
Heidegger, filsuf asal Jerman misalnya, selalu memberikan “fatwa” tentang ada. Ya, manusia akan memperoleh jawaban ketika melakukan pencarian tentang ada dalam sepanjang sejarah kehidupannya. Saya kira, hal ini juga terkait dengan pencarian tentang kebenaran. Adakah kebenaran? Itulah ada (being). Kenapa? Sebab kalau hanya mengada-ada (beings), itu bukanlah ada. Artinya, itu bukanlah kebenaran.

Begitulah. Filsafat memang memberikan petualangan intelektual yang mengasyikkan ketika membicangkan kebenaran. Tapi, bagi saya, filsafat tetap bukan “media” untuk mendapatkan kebenaran. Dia, bagi saya, hanya memberikan semacam beragam alternatif atas segala sesuatu, sehingga kita bisa memandang setiap persoalan, sekaligus menyikapinya dengan cakrawala yang lebih luas dan bijak.

Soal kebenaran, lagi-lagi saya belum berani berspekulasi untuk memercayai filsafat sepenuhnya. Saya bakal yakin dan tenang ketika wajah kebenaran dikembalikan dalam cakrawala agama. Mungkin, terlihat naif. Tapi, itulah sikap”politik” yang saya percayai sekarang ini.

Setelah jelas posisinya, sekarang, alangkah baiknya kita fokuskan penerawangan kita mengenai “Post Truth” ini ke jantung kekuasaan, bukan di ranah masyarakat (publik). Kenapa? Karena saya melihat, sekarang ini narasi yang dibangun adalah penciptaan mitos-mitos politik. Ambil contoh, presiden Jokowi dalam pidatonya kerap sekali mengajak untuk menghindari hoaks, ujaran kebencian, politisasi agama. Seolah masyarakat sumber segala macam itu, sementara jantung kekuasaan seolah terbebas dari hoaks, ujaran kebencian dan politisasi agama. Mitos demikian harus dibongkar.

Fakta mesti dikedepankan, bukan mitos-mitos politik. Mitos tentang mobil nasional Esemka, mitos rupiah menguat, atau yang paling banyak digemborkan, mitos infrastruktur. Di Papua misalnya, pembangunan infrastruktur digembar-gemborkan, padahal presiden sebelumnya telah mengawalinya dan capaian dinilai lebih bagus dari pembangunan 4 tahun belakangan. Mitos itu pada akhirnya terbongkar dengan sendirinya, setelah proyek memakan korban puluhan pekerja tewas dalam proyek “pencitraan” itu.

Kini, di era “Post Truth” ini, siapa yang paling bertanggungjawab? Jawabannya adalah media. Persoalannya, di era medsos sekarang ini, siapapun bisa menjadi “media”. Siasat penyelamatannya, di ranah individu, pemahaman tentang literasi media, termasuk di dalamnya, etika komunikasi, mesti terus diupayakan. Di ranah mainstream, media seharusnya bertanggungjawab, seperti maklumat Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya “The Elements of Journalism” bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, bukan yang lain.

Pertanyaannya sekarang, apakah kebenaran ini bisa terus kita rawat, di era media yang menyitir Rocky Gerung sudah banyak sekadar menjadi “brosur pemerintah”? Kita sudah tahu jawabannya. Itu sebabnya, apa boleh buat, kewarasan bermedia sekarang tak boleh diserahkan begitu saja kepada media arus utama. Inisiatif publik memunculkan individu-individu yang cerdas bermedia, munculnya media alternatif, termasuk media-media Islam seharusnya bisa menjaga akal sehat arus informasi diera “Post Truth” ini. []

Tags: headlinesIstilah "Post-Truth" Harus DitolakYons Achmad
ShareTweetSend
Previous Post

Quranic School of Dewan Dakwah Gelar Penggalangan Dana

Next Post

Akhirnya Kemendagri Cabut Aturan Penggunaan Jilbab untuk PNS

Next Post
Akhirnya Kemendagri Cabut Aturan Penggunaan Jilbab untuk PNS

Akhirnya Kemendagri Cabut Aturan Penggunaan Jilbab untuk PNS

Membongkar Propaganda La Nyalla

Membongkar Propaganda La Nyalla

Peran Indonesia Dalam Dunia Islam

MUI Kecam Penindasan Muslim Uighur, “Pelanggaran Nyata HAM dan Hukum Internasional”

  • Latest
  • Popular
Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

8 Mar 2024
Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

18 Mar 2024
Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

20 Nov 2025
Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

31 Oct 2025
Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

27 Oct 2025
Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Desak TRANS7 Minta Maaf, Terkait Konten Merendahkan Kiai dan Pesantren

16 Oct 2025
Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

13 Oct 2025
130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

12 Oct 2025
Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

11 Oct 2025
Istilah “Post-Truth” Harus Ditolak

Istilah “Post-Truth” Harus Ditolak

50 Ciri Gangguan Jin

50 Ciri Gangguan Jin

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Copyright
  • Donation
  • Pedoman Media Siber

Seluruh materi baik artikel, berita, foto, video maupun logo dalam situs Panjimas.com bebas copy untuk keperluan dakwah dan referensi non-komersial, dengan mencantumkan sumbernya (Panjimas.com).Anda bisa turut berdakwah dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Email: [email protected] | Telp/SMS: 0812 60000 560

Copyright © 2026 — Panjimas. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi

Copyright © 2019
Panjimas. All Rights Reserved.