• About Us
  • Archives
  • Blog
  • Contact
  • Copyright
  • Disclaimer
  • Donation
  • Full Width Page
  • Home
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
No Result
View All Result
Panjimas
Advertisement
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
No Result
View All Result
Panjimas
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Generasi untuk Mati

10 Mar 2024
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
A A
Suicide Kian Marak Pertanda Apakah Ini?
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

(Panjimas.com) – Apa jadinya jika generasi hari ini hidup, namun untuk mati? Ya, pada hari ini calon generasi masa depan kita sekarang sedang dirongrong oleh penyakit ‘antri stres dengan mati’. Mereka yang merasa tak sanggup dengan beban hidup ataupun pikiran rumit dalam benak, akan sangat mudah untuk mengambil jalan mengakhiri hidup. Mereka, para calon generasi ini berpikir amat dangkal, bahwasanya semua masalah yang terjadi dalam hidup akan terselesaikan hanya dengan satu aksi, yakni bunuh diri.

Cobalah lihat berita beberapa hari ini, mungkin kita masih disuguhkan dengan berita-berita yang sebenarnya sudah tak baru lagi. Kasus bunuh diri dua pelajar asal Kediri dan Gowa yang masih menghiasi kolom-kolom berita media cetak maupun media online. Sungguh miris, kedua pelajar tersebut masih sangat belia, masih sangat muda, masih terhitung berumur enam belas tahun ketika melakukan aksi nekat itu. Tentu ini bukan kali pertama kasus serupa menimpa generasi kita, sudah banyak kasus bunuh diri bahkan dengan cara yang berbeda-beda, mulai dari meneguk racun serangga, memotong urat nadi, terjun dari lantai atas gedung, sampai pada langkah gantung diri. Rupanya, kasus ini sudah seperti gunung yang semakin hari terus bertambah tingginya.

Tentu ini adalah sebuah masalah, masalah yang mengancam generasi muda kita yang merupakan calon penerus bangsa nantinya. Apa jadinya sebuah bangsa jika para generasinya memiliki pola pikir demikian, pola pikir yang seharusnya tidak ada bahkan dalam benak sekalipun. Jika keadaan ini terus dibiarkan tanpa ada penyelesaian yang konkrit dan mendasar, akan mengakibatkan kasus serupa terus merebak dan bisa jadi menjadi ancaman baru bagi Indonesia yaitu kepunahan generasi. Ancaman ini bukanlah sesuatu hal yang mustahil terjadi, bahkan sangat mungkin terjadi mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang sangat tinggi. Bisa diabayangkan, apabila semua generasi memiliki pola pikir yang sama seperti di atas, kemudian ditambah dengan sejumlah masalah yang semakin pelik setiap harinya, tentu ancaman di atas bukan sebuah kemustahilan.

Apa sebenarnya yang sedang menimpa generasi muda hari ini?

Jika kita melihat jauh lebih dalam, ternyata apa yang menimpa generasi hari ini tak bisa dipishakan dari lingkungan dan kondisi yang mengapit mereka. Lingkungan dan kondisi sangatlah berpengaruh terhadap pola pikir seseorang, mereka akan cenderung untuk mengikuti apa-apa yang sering mereka lihat dan dengar untuk kemudian diterapkan dalam hidup mereka. Namun sayang, kondisi dan lingkungan hari ini belum bisa dikatakan baik bagi para pemuda.Mereka seolah-olah dibentuk oleh keadaan dan sistem sekarang untuk hanya berorientasi pada kebahagiaan materi dan jasadiah semata. Sehingga mereka dalam setiap aktifitas yang dilakukan tidak lain dalam rangka pemenuhan orientasi tersebut, dan akan menimbulkan sebuah masalah apabila pemenuhan orientasi tadi tidak tercapai. Keadaan ini diperburuk dengan jauhnya mereka dari agama, sekulerisasi yang hanya menempatkan agama pada ranah privat saja.

Maka sungguh wajar, jika melihat generasi muda sekarang yang mereka dikelilingi oleh keinginan dan orientasi duniawi, akan sangat mudah untuk mereka dihancurkan. Melalui Food, Fun, Fashion, dan Film (4F), pemikiran mereka dipengaruhi dan diarahkan pada kesenangan yang hanya bersifat duniawi. Kesedihan dipandang apabila tidak mampu memenuhi keempat hal ini. Dan apabila sudah tak mampu dicapai, pilihan mengakhiri hidup pun adalah suatu yang tidak dielakkan lagi. Seperti pada kasus bunuh diri di atas, salah satu korban melakukan aksi nekat tersebut hanya karena handphone yang sering ia gunakan diambil paksa oleh sang Ibu. Tak terima HP-nya diambil dan dijual, akhirnya ia memilih untuk membunuh diri sebagai sebuah protes atas “kesenangan” yang telah diambil paksa. Dan ini adalah realita yang sekarang sedang terjadi di tengah-tengah generasi kita.

Apa yang semestinya dilakukan sekarang?

Tentu tak bisa jika hanya menyalahkan korban yang telah tiada, atau hanya menyalahkan pada tingkat individu saja. Keadaan ini sekali lagi adalah bentukan sistem yang jauh dari peran agama, sehingga menjadikan orag-orang yang berada di dalamnya hanya berorietasi pada perkara yang bersifat duniawi semata. Maka, apa yang harus dilakukan untuk merubah keadaan generasi muda hari ini? Jawabannya adalah mengembalikan mereka pada orientasi yang sesungguhnya, yaitu orientasi yang tidak hanya bersifat materialistis dan duniawi, tetapi orientasi yang lebih luhur yakni kebahagiaan hakiki dengan mencapai ridha ilahi. Siapa yang akan melakukannya? Jelas tugas ini tidak diserahkan kepada individu atau hanya pada keluarga semata, melaikan seluruh elemen yang ada dalam negara. Ini adalah tugas kolektif yang yang dilakukan bersama-sama, mulai dari individu yang disadarkan akan orientasi kebahagiaannya, keluarga dan masyarakat yang turut mengingatkan, serta negara yang menerapkan aturan serta sistem yang mampu mengontrol mereka pada jalur yang sesuai dengan orientasi bersama. Jika sudah semua elemen ini sadar akan peran masing-masing, maka ancaman generasi dari kepunahan bisa untuk dihindari.

Kesemua solusi dan pemecahan masalah di atas ternyata telah ada dalam Islam. Islam adalah agama yang sempurna mengatur setiap aspek kehidupan. Dalam Islam, generasi muda memiliki posisi yang sangat penting sehingga keberadaan mereka sangat diperhatikan. Tidak akan dibiarkan mereka terjerumus pada orientasi kebahagiaan yang hanya bersifat sementara, melainkan mereka akan dibentuk untuk menjadi orang-orang yang memiliki tujuan kebahagiaan yang didapat dengan meraih Ridha-Nya, yaitu Surga yang kekal di akhirat sana. Dan kesemuanya membutuhnya peran Islam dalam seluruh lini kehidupan, baik dalam lini individu yang bertakwa, masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan, serta negara yang menerapkan syariat Islam. Semunya lini tersebut membutuhkan standar yang benar, dan standar yang benar bukan datang dari manusia, melainkan dari sang Pencipta, Allah Azza Wajalla. Allahu’alam. [RN]

 

Penulis, Siti Hariati Hastuti

Mahasiswi Tingkat Akhir, Universitas Brawijaya. Tim Penulis Pena Langit

 

Tags: bunuh diri
ShareTweetSend
Previous Post

Tak Cukup Bukti Satpam Toko Buku di Ngruki Akhirnya Dipulangkan

Next Post

JPU Akan Hadirkan Saksi Ahli dari MUI di Sidang Abraham Ben Moses

Next Post
Pesan MUI Kepada Umat Islam Jangan Hura-hura di Tahun Baru Masehi

JPU Akan Hadirkan Saksi Ahli dari MUI di Sidang Abraham Ben Moses

[VIDEO] Korban Tabrak Lari, Santri Pesantren Ini Remuk Telapak Tangannya. Ayo Bantu Biaya Operasi!

[VIDEO] Korban Tabrak Lari, Santri Pesantren Ini Remuk Telapak Tangannya. Ayo Bantu Biaya Operasi!

MUI dan PGI Sepakat Soal Masjid di Sentani Jangan Berkembang ke Daerah Lain

MUI dan PGI Sepakat Soal Masjid di Sentani Jangan Berkembang ke Daerah Lain

  • Latest
  • Popular
Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

8 Mar 2024
Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

18 Mar 2024
Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

20 Nov 2025
Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

31 Oct 2025
Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

27 Oct 2025
Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Desak TRANS7 Minta Maaf, Terkait Konten Merendahkan Kiai dan Pesantren

16 Oct 2025
Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

13 Oct 2025
130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

12 Oct 2025
Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

11 Oct 2025
Suicide Kian Marak Pertanda Apakah Ini?

Generasi untuk Mati

50 Ciri Gangguan Jin

50 Ciri Gangguan Jin

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Copyright
  • Donation
  • Pedoman Media Siber

Seluruh materi baik artikel, berita, foto, video maupun logo dalam situs Panjimas.com bebas copy untuk keperluan dakwah dan referensi non-komersial, dengan mencantumkan sumbernya (Panjimas.com).Anda bisa turut berdakwah dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Email: [email protected] | Telp/SMS: 0812 60000 560

Copyright © 2026 — Panjimas. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi

Copyright © 2019
Panjimas. All Rights Reserved.