• About Us
  • Archives
  • Blog
  • Contact
  • Copyright
  • Disclaimer
  • Donation
  • Full Width Page
  • Home
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
No Result
View All Result
Panjimas
Advertisement
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
No Result
View All Result
Panjimas
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Indonesia Dalam Bimbang di 2030 Mendatang

10 Mar 2024
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
A A
Indonesia Dalam Bimbang di 2030 Mendatang
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

(Panjimas.com) – Iklim perpolitikan Indonesia menjelang Pilkada serempak dan Pemilu raya sedang panas-panasnya. Bukan hanya karena kehadiran caleg-caleg yang mulai cari-cari perhatian warga di dunia nyata, juga karena ada satu pembicaraan yang tidak berhenti arusnya selama seminggu terakhir ini, yaitu tentang pidato Ketua Umum sebuah partai oposisi yang berusaha menggambarkan kondisi negeri kita pada tahun 2030 yang akan datang. Tidak tanggung-tanggung, kata ‘bubar’ menjadi viral hingga memantik berbagai komentar dari berbagai tokoh diseluruh penjuru negeri. Pro dan kontra pun berkembang. Ada yang menganggap lucu karna referensi yang dicatut hanya sebuah novel fiksi luar negeri, ada juga yang membenarkan kemungkinan tersebut dengan melihat fakta yang juga sempat dipaparkan dalam pidato tersebut.

Indonesia sebagai negara berkembang yang besar dengan segala potensinya, tidak dapat dipungkiri bahwa kita memiliki kesempatan untuk berdaya sebagaimana negara-negara maju saat ini. Usahanya saja yang mungkin perlu lebih ekstra, karna secara politik kita belum punya bargaining position layaknya negara tetangga. Baik secara geografis maupun demografis kita unggul dibanding negara ASEAN lainnya. Namun dari segi lainnya, Indonesia kesulitan menunjukkan taringnya. Sekedar untuk menolak impor saja Presiden kita masih sering berkilah, janji-janji kampanyenya 4 tahun lalu dibiarkan hilangditelan waktu, seakan-akan program kerja yang ia rancang dengan timnya dulu tak bisa berlaku, meski kekuasaan dalam genggamannya, meski kebijakan dapat disahkan berkat tandatangannya.

Lebih dari itu, ketimpangan yang terpampang secara nyata ini sangat mungkin untuk dijadikan penguat bagi pendapat akan bubarnya negara dalam waktu dekat. Kita rasakan sendiri bagaimana distribusi kekayaan hanya berputar dalam pusaran para kapital (pemilik modal) saja, kesenjangan semakin tinggi, harga bahan pokok meningkat tidak sejalan dengan pendapatan, aset negara diobral besar-besaran, hingga tenaga kerja asing semakin melenggang mudah dipasaran. Belum lagi masalah pergaulan yang makin kebablasan, pendidikan yang tak jelas arahan, keamanan warga yang tak ada jaminan, kesehatan yang semakin jauh dari jangkauan, juga keutuhan keluarga yang menjadi angan, hingga pada tataran individu generasi yang lelah mengarungi kehidupan. Entah mereka berakhir dalam kubangan lumpur peradaban atau mati dengan kesia-siaan.

Ketika mata sudah terbuka lebar, suka atau tidak suka, kondisi inilah yang sedang berjalan. Atas nama kebebasan, segala kebijakan menjadi halal seakan-akan. Kita harus sadar sejauh mana leher kedaulatan negara ini diberikan lewat konsesi hutang. Empat ribu dua ratus triliunan Rupiah bukanlah barang sedikit. Saking banyaknya, ada seorang profesor peneliti Badan Indo Geospasial yang menghitungkan luasan dimensi horizontal hutang sebanyak itu dengan mengkonversinya ke pecahan uang 1000 rupiah. Dengan ukuran uang 151 mm x 65 mm per lembar, uang ribuan triliun tersebut akan mampu mencapai 2 kali luas Pulau Jawa. Besaran hutang sefantastis itu bagaimana melunasinya?

Pepatah dalam bahasa Inggris mengatakan “there is no free lunch”, tidak ada makan siang gratis. Semua pemberian hutang itu tidak diberikan secara percuma. Bercokolnya sistem ekonomi kapitalis, meniscayakan setiap orang untuk berbuat atas dasar keuntungan semata. Apalagi dalam urusan negara. Tidak hanya wajib membayar bunga yang tidak sedikit, pemerintah Indonesia wajib menswastanisasi berbagai sektor yang disyaratkan oleh si pemberi hutang. Banyak juga dari kalangan pengamat yang melihat gelagat pemesanan undang-undang oleh para elit berduit. Indikasinya banyak, salah satunya adalah betapa mulus dan licinnya jalan mereka untuk menggemukkan bisnisnya. Juga terlihat dari banyaknya pemilik kursi terlibat kasus korupsi. Maka benar jika kondisi saat ini lebih tepat disebut korporatokrasi, dimana petinggi pemerintah dipimpin secara sistem afiliasi korporasi (perusahaan-perusahaan besar).

Parahnya lagi, hutang telah dipandang oleh negeri ini sebagai alat fiskal untuk menggerakkan roda perekonomian dansaat negara butuh dana untuk membangun pun, berhutang menjadi satu-satunya solusi instan yang diambil. Sistem keuangan seperti ini jelas tak akan kokoh. Selamanya kita akan didikte karna hutang kita yang semakin hari semakin mencekik. Gambaran Indonesia bubar menjadi semakin mudah dipahami, yang pasti adalah Indonesia ini bisa bubar kedaulatannya.

Berbeda dengan pengelolaan sistem keuangan dalam Islam. Dalam tatanan negara Islam (Khilafah), disyariatkan pos fai, kharaj, jizyah, pengelolaan aset kepemilikan umum (barang tambang, hasil hutan dan laut, dan lain-lain), zakat mal (zakat ternak, pertanian, perniagaan, emas dan perak) menjadi sumber penghasilan negarayang produktif dan selalu mengalir karna tidak terjerat hutang ribawi. Sistem pemungutan pajak dalam berbagai sektor akan ditidakan sehingga tidak akan membebani rakyat secara umum. Penerapannya pun sudah menorehkan tinta emas sejarah peradaban manusia, yakni di masa Khalifah Harun Al-Rasyid yang jumlah surplus pendapatan negaranya setara total penerimaan APBN Indonesia. Belum lagi pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatthab yang bebas hutang sepeser pun dari negara luar. Pembangunan kanal dari Fustat ke Laut Merah, pembangunan kota dagang Basrah (jalur dagang ke Romawi), pembangunan kota Kuffah (jalur dagang ke Persia) berhasil melancarkan aliran dana untuk memfasilitasi aktivitas negara dan rakyatnya.

Sistem keuangan inilah yang dibutuhkan Indonesia, bahkan negara lainnya untuk menghilangkan kebimbangan mengarungi masa depan. Revolusi sistem politik dan ekonomi kearah Islam secara Kaaffah akan menjadi acuan dalam menyetir dan menentukan nasib negara ke depannya. Jika konsep ini yang semakin digaungkan, wacana Indonesia bubar 12 tahun mendatang bisa dicegah, bahkan digantikan dengan keteraturan yang akan mendatangkan rahmat dan menjadikan negeri ini sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. WaLlaahu a’lam bi ash-Shawwab. [RN]

Penulis, Salma Banin,

Mahasiswi mantan staf Kementrian Kebijakan Publik Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, sekaligus anggota komunitas penulis PENA LANGIT

Tags: hutanghutang bank
ShareTweetSend
Previous Post

Tembakan Artileri Israel di Gaza Bunuh Petani Palestina

Next Post

Peringati Hari Tanah ke-42, Puluhan Ribu Warga Gaza Gelar Aksi “Gerakan Pulang Raya”

Next Post
Peringati Hari Tanah ke-42, Puluhan Ribu Warga Gaza Gelar Aksi “Gerakan Pulang Raya”

Peringati Hari Tanah ke-42, Puluhan Ribu Warga Gaza Gelar Aksi “Gerakan Pulang Raya”

Hamas: “Hak Pulang Rakyat Palestina Bukan Hanya Slogan Belaka, Kami Bekerja Mewujudkannya”

Hamas: “Hak Pulang Rakyat Palestina Bukan Hanya Slogan Belaka, Kami Bekerja Mewujudkannya”

Pesan Usahmah Hisyam Dihadapan Kader Parmusi: Jadilah Agen Perubahan

Pesan Usahmah Hisyam Dihadapan Kader Parmusi: Jadilah Agen Perubahan

  • Latest
  • Popular
Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

8 Mar 2024
Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

18 Mar 2024
Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

20 Nov 2025
Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

31 Oct 2025
Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

27 Oct 2025
Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Desak TRANS7 Minta Maaf, Terkait Konten Merendahkan Kiai dan Pesantren

16 Oct 2025
Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

13 Oct 2025
130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

12 Oct 2025
Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

11 Oct 2025
Indonesia Dalam Bimbang di 2030 Mendatang

Indonesia Dalam Bimbang di 2030 Mendatang

50 Ciri Gangguan Jin

50 Ciri Gangguan Jin

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Copyright
  • Donation
  • Pedoman Media Siber

Seluruh materi baik artikel, berita, foto, video maupun logo dalam situs Panjimas.com bebas copy untuk keperluan dakwah dan referensi non-komersial, dengan mencantumkan sumbernya (Panjimas.com).Anda bisa turut berdakwah dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Email: [email protected] | Telp/SMS: 0812 60000 560

Copyright © 2026 — Panjimas. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi

Copyright © 2019
Panjimas. All Rights Reserved.