• About Us
  • Archives
  • Blog
  • Contact
  • Copyright
  • Disclaimer
  • Donation
  • Full Width Page
  • Home
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
No Result
View All Result
Panjimas
Advertisement
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
No Result
View All Result
Panjimas
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Membaca Jejak Kelam Kekejaman PKI

10 Mar 2024
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
A A
Membaca Jejak Kelam Kekejaman PKI
0
SHARES
72
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, (Panjimas.com) — Dalam sebuah acara menolak lupa jejak pengkhianatan PKI disebuah tempat di Surabaya, dihadirkan seorang saksi hidup korban kekejaman PKI. Sebut saja beliau Pak Haryoso, beliau sampaikan betapa dia yang saat itu usia 25 tahun, pekerjaan petani, di sebuah desa di Bojonegoro, hanya karena dia seorang muslim, maka dia dianggap sebagai musuh PKI. Dalam kesaksiannya dia juga sampai menunjukkan bekas luka bacok yang dialaminya di bagian punggungnya.

Jejak kelam itu sejatinya membekas sekali bagi mereka yang menjadi korban dan keluarga korban akibat kekejaman PKI, sehingga menjadi sesuatu yang wajar kalau kemudian luka itu masih menganga, apalagi kalau dilihat kelamnya sejarah itu,  justru banyaknya terjadi pembantaian ulama yang dilakukan oleh PKI. Gerakan PKI tak punya belas kasihan kepada siapapun yang dianggap musuhnya, yang ada pada pengemban gerakan ini adalah melakukan propaganda dan fitnah agar musuhnya punya alasan untuk dihabisi, nah sejatinya ideologi ini tak layak hidup di negeri Pancasila.

Sebagai pelengkap betapa kejinya tindakan gerakan PKI, ada satu kisah yang tulis oleh pojoksatu.id tentang perlakuan mereka terhadap Al Qur’an dan para santri putri. Sebelum G30S/PKI, pada Januari tepatnya tanggal 13. Tanggal dimana banyak yang melinangkan air mata ketika mengenang peristiwa itu.

Teror PKI menjadi penyebabnya. Sebuah teror yang para saksi sejarah berharap agar tak lagi terulang di masa depan, dimana ketika itu kebengisan dan kekejaman PKI di Kanigoro terjadi.

Saksi hidup Muawanah Ali (71), yang juga menjadi salah satu korban peristiwa kekejaman PKI di Kanigoro, selalu tak kuat menahan linangan air mata. Dia ingat jelas kejadian memilukan yang ia alami sendiri dalam acara mental training Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kanigoro.

Selama ini, menurut Muawanah, masyarakat Indonesia hanya mengetahui kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui peristiwa Gerakan 30 September PKI (G-30S/PKI). Namun, jika hendak dirunut lagi, berdasar sejarahnya, sebelum terjadi (G-30S/PKI), sudah banyak kekejaman PKI terhadap rakyat Indonesia, terutama umat muslim. Salah satunya Peristiwa Kanigoro pada 13 Januari 1965.

Bersama 125 anggota Pemuda Islam Indonesia (PII) lainnya dari seluruh Jawa Timur, Muawanah dan kawan-kawannya diserang Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia (BTI), dua ormas binaan PKI. Ketika itu, Muawanah masih berada di asrama. Ia hendak berangkat ke Masjid untuk mengikuti kuliah subuh.

Dengan sangat ganas dan tanpa aturan, beberapa Pemuda Rakyat masuk ke asrama dan menggedor-gedor pintu. Saat itu, Muawanah berada satu kamar dengan salah satu temannya dari Kertosono yang memiliki paras cantik dan manis. Karena kecantikan temannya tersebut, membuat para pemuda rakyat melakukan pelecehan seksual dengan cara meraba-raba badan dari teman sekamarnya tersebut.

Setelah melakukan pelecehan seksual, massa PKI mengambil dan melempar Al-Qur’an untuk diinjak-injak bersama-sama. “Kami masih usia Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika mendapat perlakuan seperti itu, pasti takut,” ungkapnya.

Dalam situasi genting, Muawanah mencoba membuka jendela, melihat di luar, terdapat empat orang penjaga dari PII (termasuk Ibrahim Rais yang sekarang menjadi suaminya). Ketika melihat di luar, sudah ada beberapa orang penjaga dari PII, ia merasa lega dan aman. Tapi, celakanya, setelah Muawanah melihat lagi dengan lebih seksama, penjaga-penjaga tersebut sudah diikat semua oleh para anggota PKI.

Bahkan, menurut Muawanah, anggota PKI juga memaki para penjaga dari PII dengan kata-kata, “Dasar antek Belanda, Dasar antek Masyumi”. Selesai diikat, pemuda-pemuda tersebut digiring menuju Masjid dan dikumpulkan.

Setelah berhasil mengobrak-abrik asrama Putri, massa PKI keluar meninggalkan Muawanah dan temannya di dalam kamar. Situasi yang tak jauh berbeda juga terjadi di asrama putra. Disana, semua barang dan uang yang ada di asrama putra, juga dirampas. “Saya baru mengetahui terjadinya kekacauan di Masjid setelah pukul 07.00 WIB,” kenangnya seperti dilansir cendananews.com.

Semua laki-laki PII diikat dan dibawa ke arah timur melalui jalan tengah sawah, sambil diancam akan dibunuh, jika ada yang melawan. Semua lelaki dibawa ke kantor polisi. Sedangkan para perempuan dilepaskan, setelah beberapa dilecehkan secara seksual.

Sejak peristiwa itu, Muawanah jadi tahu, sebelum peristiwa Kanigoro, PKI sudah melakukan teror-teror sejak ia masih duduk di bangku PGA di Malang dalam bentuk lemparan batu. Hanya saja, saat itu, dirinya masih belum sadar kalau lemparan batu tersebut merupakan salah satu teror dari PKI kepada umat Islam.

Agar peristiwa kekejaman PKI tersebut tidak terulang di masa yang akan datang, Muawanah berharap, kurikulum pelajaran anti komunis bisa diajarkan di sekolah-sekolah. “Kami punya harapan agar nantinya di sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sudah di ajarkan mengenai bahaya komunis,” harapnya.

Acapkali, Muawanah mengadakan demonstrasi jika terdengar suara-suara yang menginginkan agar pemerintah minta maaf kepada PKI. Suara-suara seperti itu, dalam amatan Muawanah, bias terdengar menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus. “Meskipun kita sekarang sudah tua, kami selalu mengadakan demonstrasi kepada pemerintah, jangan sampai mau untuk meminta maaf kepada PKI,” tegasnya.

Hal yang sama yang saya saksikan di Surabaya, adanya Sekber Benteng NKRI, meski dikomandani oleh tokoh sepuh Arukat Jaswadi dan anggotanya juga sudah dibilang tak mudah lagi, mereka berjibaku dalam penolakan ideologi komunis di Indonesia.

Ideologi akan terus tumbuh dan tak akan pernah mati, maka ada baiknya tokoh tokoh tua penolak ideologi komunis juga mulai berpikir melakukan regenerasi pemahaman, sehingga ketika tokoh-tokoh tua itu tiada, masih ada pelanjutnya. Gerakan ideologis bukanlah persoalan gagah gagahan dan aksi heroik, gerakan ideologis persoalan bagaimana menyemai ideologi agar bisa diterima oleh semua pihak, tak terkecuali apa yang dilakukan oleh Komunis.[IZ]

Semoga menjadi renungan kita semua!

Wassalammualaikum wr wb

Surabaya, 1 Oktober 2018

M. Isa Ansori

 

 

 

 

 

 

 

Tags: Gerakan PKIheadlineskekejaman PKIMembaca Jejak Kelam Kekejaman PKIPeristiwa Kanigoro
ShareTweetSend
Previous Post

Era Disruptif, Perguruan Muhammadiyah Perlu Perencanaan Strategis

Next Post

JK Akui Bertemu Dengan PM Israel Netanyahu di New York

Next Post
Penuhi Undangan ke Israel, FPI Aceh Kecam Wantimpres Yahya

JK Akui Bertemu Dengan PM Israel Netanyahu di New York

Diduga Dianiaya Tiga Orang, Ratna Sarumpaet Dipukuli, Diinjak dan Dilempar ke Aspal

Diduga Dianiaya Tiga Orang, Ratna Sarumpaet Dipukuli, Diinjak dan Dilempar ke Aspal

Biadab! Tentara Myanmar Lempar Bayi-Bayi Rohingya ke Udara Lalu Ditebas Parang

ASEAN Tuntut Myanmar Izinkan Komisi Independen Selidiki Krisis Rohingya

  • Latest
  • Popular
Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

8 Mar 2024
Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

18 Mar 2024
Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

20 Nov 2025
Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

31 Oct 2025
Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

27 Oct 2025
Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Desak TRANS7 Minta Maaf, Terkait Konten Merendahkan Kiai dan Pesantren

16 Oct 2025
Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

13 Oct 2025
130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

12 Oct 2025
Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

11 Oct 2025
Membaca Jejak Kelam Kekejaman PKI

Membaca Jejak Kelam Kekejaman PKI

50 Ciri Gangguan Jin

50 Ciri Gangguan Jin

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Copyright
  • Donation
  • Pedoman Media Siber

Seluruh materi baik artikel, berita, foto, video maupun logo dalam situs Panjimas.com bebas copy untuk keperluan dakwah dan referensi non-komersial, dengan mencantumkan sumbernya (Panjimas.com).Anda bisa turut berdakwah dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Email: [email protected] | Telp/SMS: 0812 60000 560

Copyright © 2026 — Panjimas. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi

Copyright © 2019
Panjimas. All Rights Reserved.