• About Us
  • Archives
  • Blog
  • Contact
  • Copyright
  • Disclaimer
  • Donation
  • Full Width Page
  • Home
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
No Result
View All Result
Panjimas
Advertisement
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
No Result
View All Result
Panjimas
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Mereka Lupa, Prabowo Bukan Yang Dulu

10 Mar 2024
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
A A
Mereka Lupa, Prabowo Bukan Yang Dulu
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh M. Nigara, Wartawan senior, Mantan wasekjen PWI

(PANJIMAS.COM)
— DULU, Jokowi bisa menang padahal belum berkuasa, apalagi sekarang. Dulu kekuasaan belum di tangan, belum dikenal secara nasional, belum bisa menggunakan apa saja untuk meraih kemenangan, rakyat sudah memberi kepercayaan.

Apalagi sekarang, dia presiden, kekuasaan ada dalam genggamannya. Apa saja bisa dilakukan. Secara kasat mata, kita sering melihat hal itu. Contoh yang paling menarik adalah kriminalisasi pada ulama, secepat kilat prosesnya. Bahkan tak ragu untuk segera ditersangkakan. Sementara jika orang yang diketahui mendukungnya, kasus atau laporannya seperti menguap begitu saja.

Jadi, sangat masuk akal jika pernyataan itu sering meluncur dari kubu petahana. Entah karena panik, entah karena apa pun, yang pasti mereka menganggap kalimat tersebut seperti bom nuklir.

Tidak ada yang salah, namanya juga orang berharap, tetapi, sesungguhnya kalimat-kalimat itu bukan apa-apa. Paling tidak dihadapan para pendukung Prabowo yang militan dan masif. Kalimat-kalimat tersebut justru semakin membakar semangat dan semakin memperkokoh dukungan ke Prabowo-Sandi.

Prabowo yang beda

Ya, tampaknya mereka lupa, Prabowo yang mereka hadapi saat ini, bukanlah Prabowo yang dulu. Sandiaga Salahuddin Uno cawapres yang tiba-tiba muncul, juga tak pernah mereka duga akan nemperkuat posisi Prabowo. Muda, santun, ramah, ganteng, secepat kilat jadi idola emak-emak. Nah, jika emak-emak bergerak, tidak ada yang bisa membendung.

Sekadar mengingatkan, saat gerakan Reformasi 1998, peran kaum ibu (sekarang emak-emak) tidak kalah hebatnya para mahasiswa. Kaum ibu bahu-membahu memberikan dukungan. Malah tidak sedikit yang menyambangi gedung DPR untuk memberikan makanan dan minuman menjelang Pak Harto lengser.

Kembali je Prabowo. Dulu, para pendukung Prabowo tidak seperti sekarang, sporadis dan mudah dipatahkan. Menurut info yang patut dapat dipercaya pilpres 2014 ada kecurangan. Kabarnya lagi, Prabowo sesungguhnya menang tipis, sama tipisnya dengan kemengan Jokowi, padahal pendukungnya tidak seperti sekarang.

Artinya, dulu para pendukung itu tidak terpanggil seperti saat ini. Dulu, mengumpulkan orang 10 ribu saja susahnya minta ampun. Sekarang? Saya tidak ingin lebay, saya hanya ingin menuliskan fakta saja. Aksi 212 yang pertama 2016, memang belum memberikan dukungan konkrit. Waktu itu, umat terpanggil karena kasus penghinaan Al-Maidah ayat 51 oleh Ahok. Peserta aksi menurut mbah Google 7 juta.

Lalu, aksi atau reuni 212 tahun 2017, juga masih belum terang-benderang memberikan dukungan. Belum ada calon presiden, tapi arahnya sudah mulai jelas bahwa mayoritas umat islam dan non muslim yang datang memberi isyarat tidak akan mendukung Jokowi lagi. Yang hadir hanya berkisar 2 juta umat.

Reuni Akbar 212/2018, pesertanya super dahsyat. Ada pihak yang mengatakan pesertanya mencapai 13,4 juta (berdasar
IMEI, internasional mobile equipment identity hp), ada juga yang menyebut 11 juta (prediksi tvone), ada pula yang menyebut 8-10 juta. Berapa pun itu, yang pasti tidak 40 ribu seperti pernyatan Polri, 100-500 bagi mereka yang ingin agar kubunya (pendukung petahana) tidak panik, terserah saja. Malah Kapitra Ampera yang baru menjadi politisi, mati-matian mengecilkan jumlah peserta aksi. Dan gagal.

Semua itu tidak penting. Mereka akui atau tidak, tidak mengubah apa pun. Toh, internasional mengakui jumlahnya menjadi yang terbesar di dunia. Bahkan Perdana menteri Malaysia, Mahatir Muhammad, turun di aksi 812 yang mengikuti jejak 212 itu. Bahkan Erdogan, perdana menteri Turki, tokoh yang sedang jadi ikon dunia, menyebut aksi 212 adalah kebangkitan umat islam di dunia. Nah, jutaan umat itu secara terang-benderang telah memberi dukungan untuk Prabowo.

Masif dan militan

Hebatnya, sekarang mereka semua memperlihatkan militansi yang luar biasa. Hati mereka telah terpanggil. Dan, lazimnya orang yang hatinya terpanggil, apa saja mau mereka lakukan.

Maka jangan heran, dari tiga aksi raksasa 212 itu, mereka mendanai diri mereka sendiri. Malah tidak sedikit dari mereka yang menyediakan makanan dan minuman untuk peserta yang lain. Tak heran dalam tiga aksi itu, makanan, minuman melimpah ruah. Tak ada orang atau kelompol orang yang berebut makanan dan minuman.

Berebut? Ya, sekedar mengingatkan, di youtube pernah ramai terlihat orang ribut karena berebut makanan, minuman, dan amplop. Ya, adegan itu terjadi di acara 412, tandingan 212. Acara yang dihadiri oleh masa yang tidak mampu memadati bundaran hotel Indonesia dan bersamaan care free day lagi, tapi disebutkan oleh tv-tv pendukungnya (tanpa perasaan malu) jutaan peserta.

Ada lagi acara serupa saat menunggu kedatangan Ahok di penjara Cipinang. Jelas panitia berteriak-teriak meminta peserta aksi untuk Ahok tenang. Mereka berebut makanan.

Malah ada beberapa ibu-ibu yang ditanya tentang bayaran. “Janjinya sih Rp 75 ribu, tapi saya cuma dikasih Rp 40 ribu!” dalam event lain. Artinya, mereka bukan orang-orang yang terpanggil hatinya. Selebihnya, anda jawab sendiri.
Fakta ini yang alhamdulillah mereka lupakan. Mereka juga lupa bahwa saat ini rakyat bisa melihat dengan terang-benderang apa pun yang terjadi. Saat ini rakyat tidak bisa dibeli lagi. Bahkan belakangan kelompok emak-emak yang mengenakan kaos petahana tapi asyik menggelorakan dukungan untuk Prabowo.

Malah berulang adegan foto bersama petahana, tapi simbol yang dipertontonkan dua jari, simbol Prabowo-Sandi. Serta ada seorang ibu yang mengenakan hijab oranye menyapa petahaba: “Pak boleh ya berbeda,” katanya sambil mendekati sang petahana yang menjabat sebagai presiden. Begitu tepat di hadapan, sambil tersenyum lebar, tangan ibu itu menyiratkan simbol Prabowo.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana, hati rakyat telah tetpanggil untuk melakukan perubahan. Dan, mayoritas rakyat tidak lagi buta dan tuli.

Jadi, kalimat apa pun yang akan diluncurkan oleh kubu petahana, insyaa Allah benteng hati rakyat telah kokoh. Kalimat apa pun yang mereka ucapkan, Prabowo yang sekarang bukan Prabowo yang dulu.**

Tags: headlinesM. NigaraPrabowo Bukan Yang Dulu
ShareTweetSend
Previous Post

Masa Liburan SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo Raih 2 Gelar

Next Post

Prabowo: Menjadi Imam Salat, Orang yang Lebih Tinggi Ilmu Agamanya

Next Post
Prabowo: Menjadi Imam Salat, Orang yang Lebih Tinggi Ilmu Agamanya

Prabowo: Menjadi Imam Salat, Orang yang Lebih Tinggi Ilmu Agamanya

Habib Bahar bin Smith Ditahan, Kuasa Hukum: Polisi Harus Adil

Habib Bahar bin Smith Ditahan, Kuasa Hukum: Polisi Harus Adil

Fitnah Keji dan Orang yang Ngaku-ngaku Habib Bahar bin Smith

Fitnah Keji dan Orang yang Ngaku-ngaku Habib Bahar bin Smith

  • Latest
  • Popular
Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

8 Mar 2024
Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

18 Mar 2024
Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

Jambore Ukhuwah FORMAQIN 2025, Santri Siap Mengusung Kemenangan

20 Nov 2025
Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

Setelah Datangi Jokowi, Abu Bakar Ba’asyir Sambangi DPR

31 Oct 2025
Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

Parade Berkisah Warnai Semarak Hari Santri di Ponpes Mutiara Qur’an Putri Pracimantoro

27 Oct 2025
Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Desak TRANS7 Minta Maaf, Terkait Konten Merendahkan Kiai dan Pesantren

16 Oct 2025
Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

Masjid Kampus Islam: Antara Prioritas dan Efisiensi Anggaran

13 Oct 2025
130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

130 Pendaki Wujudkan Solidaritas untuk Palestina di Gunung Andong

12 Oct 2025
Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

Matahari di Puncak Langit Surakarta: Menguji Akurasi Waktu dengan Jam Matahari Kuno

11 Oct 2025
Mereka Lupa, Prabowo Bukan Yang Dulu

Mereka Lupa, Prabowo Bukan Yang Dulu

50 Ciri Gangguan Jin

50 Ciri Gangguan Jin

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Dewan Syariah Kota Surakarta Sayangkan Pembangunan Bukit Doa Hollyland Tidak Sesuai Izin dan Prosedur

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Protes Umat Islam Didengar, Bupati Karanganyar Hentikan Sementara Proyek Miniatur Yerusalem Hollyland di Pinggiran Solo

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

Proyek Bangunan Kristen Super Megah Holly Land di Solo

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Copyright
  • Donation
  • Pedoman Media Siber

Seluruh materi baik artikel, berita, foto, video maupun logo dalam situs Panjimas.com bebas copy untuk keperluan dakwah dan referensi non-komersial, dengan mencantumkan sumbernya (Panjimas.com).Anda bisa turut berdakwah dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Email: [email protected] | Telp/SMS: 0812 60000 560

Copyright © 2026 — Panjimas. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi

Copyright © 2019
Panjimas. All Rights Reserved.