Oleh:
Dr. H. Ikhsan Abdullah, SH., MH. (Founder Indonesia Halal Watch, Katib Syuriyah PBNU)
MELIHAT foto saya bersama Duta Besar Palestina dan anak-anak yang memakai syal keffiyeh Palestina beberapa hari lalu, saya teringat pesan Bung Karno yang hingga hari ini terus menggema: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.”
Kalimat itu bukan sekadar retorika politik. Itu adalah janji sejarah. Janji seorang founding father yang tidak pernah melupakan utang budi.
Banyak anak muda kita hari ini tidak tahu bahwa Palestina adalah bangsa yang pertama-tama bersuara lantang mengakui kemerdekaan Indonesia, bahkan setahun sebelum kita merdeka.
Pada 6 September 1944, saat bendera Merah Putih belum berkibar, Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini menyiarkan dukungan terbuka untuk kemerdekaan Indonesia melalui Radio Berlin berbahasa Arab. Seruan itu membakar semangat perjuangan di Palestina dan Timur Tengah. Gelombang solidaritas untuk Indonesia menggema di masjid-masjid. Dukungan itu kemudian diperkuat oleh tokoh-tokoh Arab dan diumumkan di berbagai media Timur Tengah saat itu. Palestina belum merdeka sepenuhnya, tetapi sudah membela Indonesia.
Itulah sebabnya Bung Karno membalasnya dengan kesetiaan yang luar biasa. Ketika bangsa lain masih takut bersuara, Bung Karno menjadikan isu Palestina sebagai isu sentral dunia.
Pertama, pada Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Bung Karno menolak keras kehadiran Israel yang dianggap sebagai perpanjangan kolonialisme Inggris. Sebaliknya, ia mengundang Palestina meskipun belum diakui sebagai negara. Ia berkata bahwa kolonialisme belum mati, hanya berganti baju. Kolonialisme masih ada di Aljazair, Vietnam, dan Palestina. Pidato tersebut kemudian menginspirasi seorang anak muda Palestina bernama Yasser Arafat.
Kedua, melalui tindakan nyata yang berisiko. Pada Asian Games IV 1962 di Jakarta, Bung Karno menolak memberikan visa kepada kontingen Israel dan Taiwan. Akibatnya, Indonesia diskors oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Bung Karno tidak gentar. Ia justru keluar dari IOC dan membentuk GANEFO (Games of the New Emerging Forces), sebagai olimpiade tandingan bagi negara-negara yang baru merdeka. Itulah harga yang harus dibayar Indonesia demi konsistensi membela Palestina.
Ketiga, melalui doktrin politik luar negeri. Sejak proklamasi negara Israel oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, yang merampas tanah Palestina, Indonesia di bawah Bung Karno hingga hari ini tidak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sikap tersebut merupakan amanat Pembukaan UUD 1945 bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
Pidato Bung Karno dalam Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 berjudul To Build the World Anew, yang kini diakui UNESCO sebagai Memory of the World, menegaskan hal tersebut. Dunia baru tidak akan pernah tercipta selama masih ada bangsa yang terjajah.
Kini, 81 tahun setelah dukungan Syekh Amin Al-Husaini, kita menyaksikan tragedi kemanusiaan di Gaza yang memilukan. Anak-anak yang seusia dengan anak-anak dalam foto itu kehilangan rumah, sekolah, dan masa depan. Maka, pertanyaan bagi kita bukan lagi apakah kita harus membela Palestina, melainkan apakah kita masih ingat siapa yang membela kita dahulu?
Mengingat peran Palestina berarti mengingat jati diri bangsa Indonesia. Bangsa yang tahu berterima kasih. Bangsa yang tidak melupakan sejarah. Bung Karno sudah berjanji, dan janji itu harus kita lanjutkan sampai Palestina benar-benar merdeka di tanahnya sendiri.
Merawat ingatan, menjaga kemerdekaan.
Jakarta, 1 November 2026















