NEW YORK, (Panjimas.com) — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan melanjutkan operasi militernya di Suriah, Selasa (25/09). Pernyataan ini itu disampaikan Netanyahu usai Rusia berencana memasok rudal S-300 ke Suriah.

“Kami akan terus bertindak untuk mencegah masuknya militer Iran di Suriah dan kami akan melanjutkan koordinasi militer antara IDF (Pasukan Pertahanan Israel) dan tentara Rusia,” ujar Netanyahu di New York.

Sebelumnya, Rusia mengatakan Senin (24/09) bahwa pihaknya akan memasok sistem rudal permukaan-ke-udara S-300 ke Suriah dalam dua pekan, meskipun ada penolakan dari Israel.

Rusia mengatakan Suriah menembak pesawat pengintai IL-20 karena kesalahan sesaat setelah jet tempur Israel mengenai sasaran terdekat.

Kemudian usai insiden tersebut, Rusia menyalahkan Israel karena menciptakan kondisi berbahaya yang menyebabkan kecelakaan itu. Untuk diketahui, Israel telah lama melobi Moskow untuk tidak memberikan S-300 ke Suriah.

PM Netanyahu berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin (24/09). Dalam pidatonya Selasa (25/09), Netanyahu mengatakan dia dan Putin telah sepakat bahwa tim kerja dari IDF dan tentara Rusia akan segera bertemu.

Selanjutnya, Netanyahu membuat pernyataan setelah kabinet keamanannya membahas ketegangan dengan Moskow.

“Selama tiga tahun terakhir, Israel telah sangat berhasil dalam mencegah pertahanan militer Iran di Suriah dan upaya Iran untuk mentransfer senjata mematikan ke Hizbullah di Lebanon,” tandasnya.

Netanyahu mengatakan ada hal-hal yang tidak berjalan lancar. Israel telah lama melobi Moskow untuk tidak memberikan S-300 ke Suriah.

Israel berpandangan hal itu akan menghambat kemampuan pertahanan udaranya untuk menyerang pasukan Iran dan sekutu Hezbollah di Suriah.[IZ]