NEW YORK, (Panjimas.com) — Ketua Islamic Community National View (IGMG) di AS, Ayhan Ozmekik, menegaskan bahwa pihaknya mengutuk keras penindasan pemerintah China kepada umat Islam Uighur.

Ayhan Ozmekik juga menyebutkan tentang kematian penyair dan musisi Uighur pada hari Sabtu, Abdurehim Heyit, yang menyatakan penyanyi terkemuka itu “ditangkap secara tidak adil dan mati syahid di penjara.”

“Kami mengutuk insiden keji ini, yang merupakan refleksi pahit dari kebijakan asimilasi dan penganiayaan Tiongkok di Turkistan Timur,” tandas Ozmekik, dikutip dari Anadolu.

IGMG menyerukan pada para pemimpin di seluruh dunia untuk tidak tinggal diam dalam masalah ini.

Aksi protes menuntut dihentikannya penindasan sistematis pemerintah China terhadap Muslim Uighur digelar di depan kantor Misi Cina di New York, Sabtu (09/02).

Aksi yang diinisiasi oleh Islamic Community National View (IGMG), berupaya mengumpulkan warga Turki dan juga warga Turki Uighur yang tinggal di AS untuk menunjukkan solidaritas dengan Muslim Uighur di Xinjiang.

Massa berkumpul di depan gedung Konsulat China di Manhattan, New York. Mereka membawa bendera Turki dan Turkistan Timur sambil meneriakkan slogan-slogan seperti “Kebebasan untuk Turkestan Timur,” dan “Berhenti membunuh Uighur”.

Ketua Kongres Uighur Dunia, World Uyghur Congress (WUC), Dolkun Isa, yang berada di New York untuk menghadiri konferensi HAM, mengatakan bahwa pelanggaran HAM di Turkestan Timur telah berlanjut selama bertahun-tahun.

Isa menyerukan PBB, AS, Turki dan negara-negara lain untuk menerapkan tekanan pada otoritas Tiongkok untuk mengakhiri penganiayaannya terhadap minoritas Muslim Turki di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang.

Wilayah Xinjiang China adalah rumah bagi sekitar 10 juta warga Uighur. Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang, telah lama menuduh otoritas China melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.

China meningkatkan batasannya di wilayah ini dalam dua tahun terakhir, melarang pria dari menumbuhkan janggut dan wanita dari mengenakan jilbab dan memperkenalkan apa yang banyak ahli lihat sebagai program pengawasan elektronik paling luas di dunia, menurut The Wall Street Journal.

Hingga 1 juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di Xinjiang, telah dipenjara dalam jaringan yang diperluas dari kamp “pendidikan ulang politik”, menurut pejabat AS dan pakar PBB.[IZ]