JAKARTA (Panjimas.com) – komitmen untuk merombak total struktur ekonomi perdesaan guna mengakhiri ketimpangan mendalam antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koperasi RI, Dr. Ferry Joko Juliantono, S.E., Ak., M.Si., saat memberikan pencerahan dalam kegiatan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Aula Asrama Haji Jakarta, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (22/8/2026).
Di hadapan ribuan peserta muktamar, Menkop Ferry menyoroti tajam ketimpangan ekonomi di tingkat tapak di mana warga desa selama hampir tiga dekade hanya ditempatkan sebagai objek penikmat bantuan alih-alih pelaku ekonomi mandiri.
“Kesenjangan kota dan desa saat ini sudah seperti bumi dan langit. Selama 30 tahun desa hanya dijadikan penerima manfaat atau objek ekonomi. Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, kita ubah total paradigma ini dengan menjadikan warga desa sebagai pelaku ekonomi produktif melalui Koperasi Desa. Langkah ini juga menjadi benteng utama agar masyarakat tidak lagi terjerumus ke dalam jeratan pinjaman online (pinjol),” ujar Ferry Juliantono.
Menkop membeberkan bahwa pembenahan rantai pasok ekonomi desa menjadi kunci utama penyelesaian masalah gizi buruk dan malnutrisi anak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Mengutip perubahan kebijakan BGN, fokus dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) kini diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan.
“Di daerah seperti Yahukimo masih ada kasus busung lapar karena tidak ada SPPG. Daerah yang angka malnutrisinya tinggi harus menjadi prioritas utama. Jika Wahdah Islamiyah siap membangun SPPG di daerah 3T, Kementerian Koperasi siap memberikan dukungan penuh. Selain itu, seluruh barang kebutuhan bersubsidi seperti minyak goreng hingga beras dijamin oleh negara untuk disalurkan langsung melalui Koperasi Desa agar tidak ada lagi penimbunan dan harga tetap sesuai HET,” tegasnya.
Guna menyokong keberlangsungan Koperasi Desa Merah Putih, Menkop mengajak ormas keagamaan untuk terlibat langsung dalam rantai produksi industri kebutuhan harian.
“Kami memprioritaskan pasokan barang pokok dari produk UMKM lokal. Jika Wahdah Islamiyah memiliki unit produksi sabun, kecap, sambal, hingga minyak goreng, kita bisa langsung sinergikan untuk mensuplai Koperasi Desa di berbagai wilayah,” jelas Ferry.
Mengakhiri arahannya di Asrama Haji Pondok Gede, Menkop secara khusus membuka ruang pendorongan ekonomi perempuan melalui struktur resmi kementerian.
“Kementerian Koperasi memiliki badan serta deputi khusus yang membidangi pemberdayaan wanita. Kami siap menggelar sesi diskusi khusus untuk mematangkan gagasan pendorongan Koperasi Muslimah bersama pengurus Wahdah Islamiyah,” pungkas. []
















