• About Us
  • Archives
  • Blog
  • Contact
  • Copyright
  • Disclaimer
  • Donation
  • Full Width Page
  • Home
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
No Result
View All Result
Panjimas
Advertisement
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi
No Result
View All Result
Panjimas
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Tantangan Mendidik Generasi Zaman Now

10 Mar 2024
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
A A
Tantangan Mendidik Generasi Zaman Now

Father dragging son from the computer

0
SHARES
69
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

(Panjimas.com) – Siapa yang tak merasakan perubahan generasi zaman old dengan zaman now? Semua pasti merasakan. Kalau zaman old anak usia sekolah bisa menangis karena PR matematika yang membuatnya pusing, kalau sekarang ditinggal menikah sama idolanya bisa sampai menangis bombay. Kalau zaman old internet bukanlah kebutuhan setiap saat, kalau sekarang di manapun dan kapanpun bisa berselancar dengan kecepatan ekstra.  Kalau zaman old anak usia sekolah masih ramai bermain bersama seperti petak umpet, kelereng, atau lompat karet, kalau sekarang semua bisa sibuk sendiri di depan gadget masing-masing. Ya itulah sekilas perubahan dari generasi ke generasi.

Perubahan tersebut tidak lepas dari makin derasnya arus globalisasi, di mana informasi apapun bisa cepat diakses dan kebebasan menjadi ciri utamanya. Informasi baik atau buruk, benar atau hoax menyebar dengan cepat dan mampu mempengaruhi pemikiran bahkan emosi. Kalau tidak memiliki filter yang baik maka semua tidak bisa dibendung dan akibatnya anak akan terjerat ke dalam arus globalisasi.

Pendidikan anak di sekolah tak menjamin bahwa mereka dapat menjadi generasi yang cemerlang. Mahal atau tidaknya sekolah juga tidak menjamin. Tentu kita tak bisa melupakan kasus pelecehan seksual yang dialami anak yang notabene mengenyam pendidikan di salah satu sekolah internasional di ibu kota. Itu menjadi salah satu bukti bahwa mahal tidaknya sekolah tidak bisa menjamin. Semuanya dipengaruhi oleh banyak faktor. Kita tidak bisa menjadikan salah satu faktor untuk benar-benar diharapkan, juga tidak bisa menjadikan salah satu faktor  untuk disalahkan. Maka dari itu banyak tantangan yang dihadapi khususnya oleh pendidik dalam mendidik generasi zaman now.

Di era kapitalisme ini materi menjadi tujuan dan standar kehidupan. Tak sedikit dari para orang tua sibuk untuk mencari materi dan  benar-benar mengandalkan sekolah atau lembaga pendidikan lainnya untuk membantu anak-anaknya dalam belajar. Ketika hasil tidak sesuai dengan ekspektasi orang tua maka pendidik lah yang menjadi kambing hitamnya. Apalagi jika sudah merogoh kocek yang dalam untuk  biayanya. Anak tidak jarang menerima hukuman baik fisik maupun non fisik (verbal) hanya karena hasil belajar yang berupa angka tidak sesuai dengan harapan orang tua. Rasanya semua harus benar-benar sempurna.

Kepungan media di luar sana juga menjadi tantangan tersendiri dari seorang pendidik. Anak dapat mengakses apapun dan kapanpun serasa memiliki guru sendiri. Mereka bisa bertanya apa saja bahkan yang tidak sesuai dengan usia pun bisa muncul. Mereka bisa menjadi korban life style dan pemikiran karena paparan informasi. Tanpa adanya pengawasan terhadap anak maka mereka akan mengikuti apa saja yang guru mereka sampaikan di dunia maya. Tentu pendidik tidak bisa mengawasi full time apa saja yang anak cari di media.

Serangan demi serangan yang anak terima dari berbagai lini membuat mereka menjadi pribadi yang mengikuti arus mainstream dan jauh dari sebutan generasi cemerlang apalagi generasi yang sesuai dengan Islam. Nilai-nilai kebebasan dipropagandakan tanpa batas, di mana hal ini juga menjadi tantangan juga bagi pendidik. Bagaimana tidak? Ketika seorang pendidik melarang suatu hal maka bisa dianggap melanggar kebebasan individu meski sebenarnya harus terikat dengan aturan yang berlaku. Mereka bisa mengalami krisis identitas, identitasnya sebagai seorang muslim yang memahami kedudukannya sebagai hamba dari Rabb nya. Mereka memiliki pola berfikir dan standar kehidupan yang jauh dari apa yang ada di standarkan dalam Islam yakni mendapatkan ridho dari Sang Pencipta.

Cengkraman kapitalisme sepertinya benar-benar berhasil menjadikan generasi zaman now terseret di dalamnya. Harapan menjadi generasi cemerlang seperti zamannya Rasul Muhammad SAW dan para sahabat pun makin jauh. Dibutuhkan perubahan besar yang tidak hanya dari satu sisi saja. Maka untuk mengatasi itu semua dibutuhkan sistem yang shohih yang mampu mendorong generasi zaman now menjadi generasi cemerlang seperti zaman kejayaan Islam yang mampu menguasai dunia hampir 13 abad.

Setidaknya ada tiga faktor yang menjadi pendorong terbentuknya generasi cemerlang sebagaimana di masa Rasulullah dan para sahabat. Faktor pertama adalah keluarga. Anak diharapkan memiliki kesadaran penuh dan memahami kedudukannya sebagai seorang hamba. Mereka miliki visi hidup yang berorientasi tidak hanya dunia tapi juga akhirat, sesuai dengan Islam sehingga perilaku mereka pun akan senantiasa menyesuaikan. Hal ini tentu tidak akan terwujud manakala keluarga tidak menanamkan sejak dini. Faktor yang kedua adalah masyarakat, Dalam hal ini bisa pendidik (lingkungan sekolah) maupun lingkungan masyarakat. Keberhasilan anak di lingkungan keluarga tidak bisa menjamin manakala ternyata di lingkungan luarnya tidak bisa mendukung. Pendidik yang mewakili lingkungan sekolah setidaknya harus mengajarkan dan mencontohkan nilai-nilai sesuai Islam serta menjadi kontrol bagi anak manakala yang mereka melakukan penyimpangan yang tidak sesuai aturan Islam.  Faktor ketiga yang menjadi penentu besar keberlangsungan pendidikan bagi generasi ini adalah negara. Bagaimana peran negara dalam menciptakan atmosfer pendidikan bagi generasi cemerlang sangat penting. Mulai dari bagaimana penerapan sistem pendidikan yang sesuai dengan sistem pendidikan Islam, sampai peran negara dalam memfilter informasi-informasi yang tidak baik.

Dengan ketiga faktor tersebut maka pendidikan mampu menghasilkan generasi pencetak peradaban yang unggul seperti zaman peradaban Islam yang dikenal sebagai era keemasan atau “The Golden Age”. Tantangan bagi pendidik pun bisa sangat diminimalisir bahkan hilang karena sempurnanya sistem yang shohih tersebut. Tentu kita sangat merindukan itu bisa terwujud. [RN]

 

 

Penulis, Novita Fauziyah, S. Pd

Pendidik, tinggal di Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes

Tags: anakmendidik anak
ShareTweetSend
Previous Post

Sistim Sekuler Merenggut Sisi Keibuan Perempuan

Next Post

Di Tahun 2018, Kemenag Akan Intensifkan Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji

Next Post
Di Tahun 2018, Kemenag Akan Intensifkan Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji

Di Tahun 2018, Kemenag Akan Intensifkan Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji

Layanan Hapus Tato Gratis Ladang Hijrah dan Taubat, Diminati Ratusan Peserta

Layanan Hapus Tato Gratis Ladang Hijrah dan Taubat, Diminati Ratusan Peserta

Anggota DPR RI Minta Penganiaya KH Umar Basyri Segera Ditangkap

Anggota DPR RI Minta Penganiaya KH Umar Basyri Segera Ditangkap

  • Latest
  • Popular
Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

Pengumuman Nomor Kontak Baru Redaksi Panjimas.com

8 Mar 2024
Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

Sinead O’Connor Bangga Menjadi Muslim

18 Mar 2024
Tolak Keras Akui Israel, DSKS Protes ke DPRD Solo

Tolak Keras Akui Israel, DSKS Protes ke DPRD Solo

11 Jun 2025
Gema Takbir Jogja yang diselenggarakan AMM Gondomanan 30 Maret 2025

Gema Takbir Jogja yang diselenggarakan AMM Gondomanan 30 Maret 2025

28 Mar 2025
UU Baru Disahkan, Masyarakat Diambang Kecemasan

UU Baru Disahkan, Masyarakat Diambang Kecemasan

28 Mar 2025
Pondok Ngruki Buka Puasa Bersama BRIN dan Balitbang Agama Semarang

Pondok Ngruki Buka Puasa Bersama BRIN dan Balitbang Agama Semarang

22 Mar 2025
Perang Spanduk Antara Laskar VS Gudang Miras Terus Berlanjut

Perang Spanduk Antara Laskar VS Gudang Miras Terus Berlanjut

11 Mar 2025
Gudang Miras di Colomadu Ngeyel Berdiri Padahal Ditolak Warga, Siapa Bekingnya?

Gudang Miras di Colomadu Ngeyel Berdiri Padahal Ditolak Warga, Siapa Bekingnya?

8 Mar 2025
Buka Kedai Babi di Pasar Malam Arabian, Mall Sukoharjo Nodai Bulan Suci

Buka Kedai Babi di Pasar Malam Arabian, Mall Sukoharjo Nodai Bulan Suci

1 Mar 2025
Tantangan Mendidik Generasi Zaman Now

Tantangan Mendidik Generasi Zaman Now

50 Ciri Gangguan Jin

50 Ciri Gangguan Jin

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Benarkah 2 Juta Muslim Murtad Tiap Tahun?

Inilah Kisah-kisah Keji & Tak Senonoh yang Melecehkan para Nabi dalam Kitab Suci Kristen

Inilah Kisah-kisah Keji & Tak Senonoh yang Melecehkan para Nabi dalam Kitab Suci Kristen

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Hubungan Suami Istri Disunnahkan pada Malam Jum’at?

Kisah Malang Tabi’in Mujahid Hafal Al-Qur’an yang Murtad, Apa Penyebabnya?

Kisah Malang Tabi’in Mujahid Hafal Al-Qur’an yang Murtad, Apa Penyebabnya?

Penyaliban Firaun dan Yesus, Fakta atau Fiktif?

Nih Sejarahnya Kenapa Yesus Dianggap Tuhan

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Copyright
  • Donation
  • Pedoman Media Siber

Seluruh materi baik artikel, berita, foto, video maupun logo dalam situs Panjimas.com bebas copy untuk keperluan dakwah dan referensi non-komersial, dengan mencantumkan sumbernya (Panjimas.com).Anda bisa turut berdakwah dengan mengirimkan informasi, berita, artikel dan opini untuk dipublikasikan non komersial.

Email: [email protected] | Telp/SMS: 0812 60000 560

Copyright © 2025 — Panjimas. All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
  • ISLAMIA
    • Aqidah
    • Kuliah Akhlaq
    • Doa & Zikir
    • Fiqih
    • Khutbah
    • Sirah Nabi
    • Thibbun Nabawi
  • INSPIRASI
    • Salafus Shalih
    • Tokoh
    • Muallaf
    • Miracle
      • Mukjizat Qur’an
      • Keajaiban Sunnah
      • Karomah Syuhada
  • NAHIMUNKAR
    • Aliran Sesat & TBC
    • Kristenisasi & Pemurtadan
    • SEPILIS
    • Konspirasi
  • PARENTING
    • Muslimah
    • Remaja
  • Citizens
    • Opini
    • Suara Pembaca
    • Silaturrahim
    • Agenda Umat
  • PANJIMART
    • Properti
    • Produk Digital
    • Rupa-Rupa
    • Resensi Buku
  • GALERI
    • Photo
    • Video
  • SOLIDARITAS
    • Panjimas Care
    • Filantropi

Copyright © 2019
Panjimas. All Rights Reserved.