Jakarta (Panjimas) – Pemimpin kelompok perlawanan Palestina Hamas, Khalil al-Hayya, mengabaikan kemungkinan munculnya perubahan berarti dari pemilihan umum mendatang di Israel. Ia memperingatkan bahwa para politisi Israel mengompori kampanye mereka menggunakan “darah” dan penderitaan warga Palestina di Gaza.
“Apakah orang ini atau orang itu yang berkuasa, atau partai ini atau partai lainnya – rakyat kami telah menderita di tangan semua partai Israel,” kata Hayya kepada stasiun penyiaran Qatar, Al-Araby, dikutip Ahad, 27/09/2026.
“Kami sama sekali menolak membiarkan darah, penderitaan, dan perjuangan rakyat Palestina dijadikan bahan bakar untuk pemilihan umum Israel. Yang penting bagi kami adalah rakyat kami mencapai tujuan, aspirasi, dan hak-hak sah mereka.”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi persaingan ketat untuk mempertahankan kekuasaannya dalam pemungutan suara pada 27 Oktober, di mana penantang utamanya adalah mantan kepala militer Gadi Eisenkot.
Netanyahu telah bersumpah tidak akan menarik pasukan dari Gaza, serta menolak usulan perdamaian yang didukung Amerika Serikat.
Pemilihan umum ini merupakan yang pertama sejak 7 Oktober 2023.
Genosida oleh Israel di Gaza telah memaksa hampir seluruh penduduk Gaza mengungsi, menghancurkan sebagian besar bangunan, dan menewaskan lebih dari 74.000 orang.
Persatuan Palestina dan Diplomasi Regional
Beralih ke politik internal, Hayya menyinggung pemilihan legislatif Palestina yang dijadwalkan pada 28 November — yang pertama dalam dua dekade.
Presiden Mahmoud Abbas telah memerintah melalui dekret sejak Hamas memenangkan pemungutan suara pada tahun 2006.
“Kami siap duduk bersama Presiden Abbas untuk meletakkan dasar-dasar bagi program nasional dan mencapai persatuan yang sejati,” kata Hayya, seraya mencatat bahwa jika pemungutan suara ditunda, hal itu harus tetap berfungsi untuk “merapikan rumah internal Palestina.”
Hamas telah mengupayakan aliansi dengan mantan tokoh Fatah, Mohammed Dahlan, untuk membentuk front bersatu.
Namun, partisipasi masih belum pasti setelah Abbas mensyaratkan para kandidat untuk mengakui platform Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Di tingkat regional, Hayya mengonfirmasi bahwa Hamas menawarkan diri untuk menjadi mediator antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman menyusul meningkatnya serangan terhadap kerajaan tersebut. “Saya berharap hal ini dapat diterima,” katanya.[]
Sumber: TRT World & Agensi















