Jakarta (Panjimas.com) – Bekas Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyatakan bahwa badan-badan intelijen telah salah menafsirkan pesan yang disampaikan oleh Hamas sebelum 7 Oktober 2023.
Di saat bersamaan, pemimpin oposisi Yair Golan menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengabaikan berbagai peringatan sebelum peristiwa tersebut terjadi.
Gallant menyampaikan kepada Army Radio pada Ahad (27/09) bahwa sebuah pesan dari Hamas diterima Israel secara tidak langsung melalui badan keamanan domestik Shin Bet. Pesan itu menyebutkan bahwa kelompok perlawanan tersebut akan “mengguncang penjara,” meskipun ia tidak menjelaskan mekanisme penyampaian pesan tersebut.
Menurut Gallant, Shin Bet dan direktorat intelijen militer, Aman, menilai pesan itu terkait dengan penculikan peneliti Israel, Elizabeth Tsurkov, di Irak. Tsurkov sendiri telah dibebaskan pada September 2025.
Sementara itu, saluran televisi Channel 12 Israel melaporkan pada Selasa bahwa mantan pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, telah mengirimkan pesan tidak biasa kepada Israel beberapa minggu sebelum 7 Oktober. Pesan tersebut memperingatkan akan terjadinya “gempa bumi di penjara-penjara” terkait isu tahanan Palestina, tanpa menyebutkan siapa pihak perantara yang menyampaikannya.
Di sisi lain, Golan yang memimpin partai oposisi Demokrat menulis pada media sosial X bahwa Netanyahu telah menerima “semua peringatan di dunia” sebelum 7 Oktober. Namun, ia menilai sang perdana menteri “memilih untuk mengabaikannya.”
Mengutip investigasi yang diterbitkan oleh The New York Times dan media Israel Haaretz, Golan menyebut informasi intelijen mengenai potensi serangan Hamas sebenarnya telah sampai kepada Netanyahu. Ia mengklaim para pemimpin regional telah menghubungi perdana menteri secara pribadi, dan pejabat intelijen pun telah memaparkan keseriusan situasi tersebut secara jelas kepadanya.
Golan juga menuduh Netanyahu memperlemah Otoritas Palestina dan membungkam pihak-pihak yang berusaha memperingatkan akan timbulnya “bencana yang memburu.”
“Keputusan pertama yang akan kami ambil pada pemerintahan berikutnya adalah membentuk komisi penyelidik negara untuk mengusut kegagalan seluruh sistem, terutama Netanyahu,” tegas Golan seraya menambahkan bahwa publik berhak mengetahui kebenaran.
Hingga saat ini, Netanyahu terus menolak desakan pembentukan komisi penyelidik negara terkait peristiwa 7 Oktober 2023. Kantornya menapis laporan terpisah dari Haaretz yang mengklaim bahwa Presiden Uni Emirat Arab telah memperingatkannya mengenai operasi besar Hamas beberapa hari sebelum kejadian.
Menyusul peristiwa 7 Oktober tersebut, Israel melancarkan serangan brutal ke Jalur Gaza. Serangan ini membunuh lebih dari 74.000 orang, melukai sekitar 175.000 lainnya, dan meratakan hampir seluruh wilayah kantong tersebut menjadi puing-puing.[]
Sumber: Anadolu Agency















