Jakarta (Panjimas.com) — Film dokumenter tentang kejahatan militer Zionis Israel di Gaza, NAZA, telah memperpanjang masa tayangnya di bioskop-bioskop Italia setelah memuncaki box office negara tersebut sepanjang tiga hari penayangan yang direncanakan, menurut data resmi yang dirilis Kamis (1/10/2026).
Film ini meraup €451.872 (sekitar $531.000) dari 60.467 penonton saat dibuka pada Senin, menurut data dari pelacak box office Italia, Cinetel.
Pendapatan kumulatifnya mencapai hampir €1,81 juta pada akhir Rabu, dengan lebih dari 243.000 penonton.
Film tersebut tetap menjadi film berpendapatan tertinggi di negara itu pada Rabu, mengungguli film dokumenter The Bibi Files dan penayangan ulang Avengers: Endgame Extra.
Awalnya dijadwalkan tayang pada 28–30 September, NAZA mendapatkan perpanjangan masa tayang setelah tiket terjual habis dan tingginya permintaan penonton.
Lebih dari 150 bioskop telah memperpanjang jadwal penayangannya, menurut sejumlah laporan.
“Selama teater ingin menampilkannya, NAZA akan terus ditayangkan,” kata Andrea Romeo, pendiri distributor Italia I Wonder Pictures, kepada surat kabar La Repubblica.
Disutradarai oleh sutradara asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, dokumenter berdurasi 80 menit ini meneliti praktik penargetan militer Israel di Gaza. Film ini mengagutkan bahwa sistem yang digunakan selama konflik membuat kematian warga sipil berskala besar menjadi bagian yang diperkirakan dari beberapa operasi.
Direkam secara rahasia di atap-atap bangunan di Tel Aviv, film ini menampilkan kesaksian dari 24 tentara dan personel intelijen Israel anonim yang menggambarkan pengawasan, pembuatan target, dan prosedur penilaian korban sipil, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Para pembuat film menyatakan bahwa judul tersebut berasal dari akronim militer Ibrani yang mengacu pada kerusakan kolateral dan digunakan untuk memperkirakan jumlah warga sipil yang diperkirakan tewas dalam suatu serangan.
Militer Israel menolak narasi dokumenter tersebut dalam tanggapan terperinci yang diterbitkan Kamis.
Pihaknya membantah secara sengaja menargetkan warga sipil dan menyatakan bahwa kecerdasan buatan tidak pernah secara independen memilih target serangan.
Militer mempertahankan argumen bahwa perwira dan komandan yang berwenang yang membuat keputusan penargetan, serta mendalilkan bahwa prosedurnya memerlukan langkah-langkah untuk mengurangi kerugian warga sipil.
NAZA diproduksi oleh The Guardian dan JW Films, serta ditayangkan perdana di Venice International Film Festival pada September.
Film ini menerima penghargaan Special Jury Prize di festival tersebut, sementara Abraham dan Szor sebelumnya juga mengerjakan film dokumenter pemenang Oscar, No Other Land.
Film ini diperkirakan akan dirilis di lebih dari 50 wilayah sepanjang Oktober. NAZA mulai ditayangkan di New York pada Rabu dan dijadwalkan untuk peluncuran yang lebih luas di AS mulai 9 Oktober.[]
Sumber: Anadolu Agency















