SOLO (Panjimas.com) – Tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba umat Islam dihebohkan dengan kasus “salibisasi” di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Balaikota Solo, Jawa Tengah.

Perombakan “salibisasi” di kawasan yang dikenal dengan Koridor Jensud Solo ini dimulai pada Rabu (26/9/2018). Pemerintah Kota Solo menjelaskan bahwa renovasi tersebut disiapkan sebagai kawasan kota lama Kota Bengawan, dengan tujuan untuk menambah destinasi wisata dan memperkuat aroma kota Surakarta sebagai kota bersejarah.

“Koridor Jenderal Sudirman mulai Gladag sampai Tugu Pemandengan bahkan Pasar Gede, berada di lokasi yang sangat bersejarah. Sebab keberadaannya tidak terlepas dari eksistensi Keraton Surakarta. Termasuk keberadaan Benteng Vastenburg yang dulu digunakan untuk memata-matai aktivitas Keraton oleh penjajah,” ungkap Endah Sitaresmi Suryandari, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Surakarta, di laman resmi surakarta.go.id.

Alih-alih menjadikan eksistensi Keraton Surakarta sebagai kawasan bersejarah, namun pemasangan motif salib Kristen di sepanjang jalan justru menuai protes dari umat Islam Solo, karena dianggap tidak menghargai kearifan lokal.

Ustadz Dr Muinudinillah Basri, Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) itu menyebut langkah Pemkot Solo sebagai kemungkaran besar yang menodai Islam dan harus diprotes.

“Simbolisasi (salib kristiani) ini harus diprotes dan kita berjuang dengan berbagai macam kekuatan agar simbolisasi itu dikembalikan bahwa Kota Solo adalah kota Muslim,” ujarnya kepada Panjimas, Selasa malam, (15/1/2019).

“Kita tahu bahwa semasa Pakubuwono IV sudah menjalankan syariat Islam. Karena Keraton Kasunanan adalah Kerajaan Islam. Apalagi mayoritas masyarakat Solo juga Muslim,” urainya.

Senada itu, Ustadz Aris Munandar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Tengah menilai, bahwa dalam pandangan syariat Islam, salib agama lain itu identik dengan arca dan berhala yang wajib ditolak. “Umat Islam wajib menolaknya. Dengan spirit menghilangkan bentuk-bentuk berhala di muka bumi ini, maka umat Islam wajib menolaknya,” jelasnya.

Sementara itu, Ustadzah Dewi Purnamawati menegaskan bahwa ornamen itu adalah benar-benar motif salib yang disengaja.

“Jika dicermati, desain tersebut jelas menunjukkan salib. Itu tidak mungkin tidak sengaja. Harus ditelusuri siapa desainernya?” paparnya.

FOTO-FOTO LENGKAP DARI KAMERA DRONE

Benarkah tata letak andesit di Jalan Jenderal Sudirman depan Balaikota Solo itu bermotif salib Kristen?

Silahkan dilihat foto-foto dan video yang diambil dari udara oleh kontributor Panjimas Solo menggunakan kamera drone pada Selasa pagi dan sore (15/1/2019).

BERITA TERKAIT:

  1. Ada “Salibisasi” Jalan di Kawasan Bersejarah Depan Balaikota Solo
  2. Inilah Foto Lengkap “Salibisasi” di Kawasan Bersejarah Keraton Surakarta
  3. Protes “Salibisasi” di Depan Balaikota Solo, DSKS Akan Gelar Parade Tauhid Besar-besaran
  4. Dewan Dakwah Jateng Tolak “Salibisasi” Kawasan Mayoritas Muslim
  5. Kasus Salibisasi di Kawasan Bersejarah, Pemkot Solo Jangan Arogan dan Menzalimi Umat Islam