Jakarta (Panjimas.com) — Mental adalah sikap lahiriah yang mengejawantah dari keadaan batin seseorang. Bila seseorang punya sikap batin bahkan kejiwaan yang kuat dan tidak mudah menyerah, maka dia disebut bermental petarung. Dalam olah raga dikenal para olah ragawan yang bermental juara.

“Sementara ada juga yang mudah menyerah, sehingga dijuluki mental pecundang. Dalam kehidupan sehari-hari ada orang yang malas bekerja dan suka meminta-minta, maka disebutlah dia bermental pengemis,” kata Amien Rais dalam bukunya “Hijrah, Selamat Datang Revolusi Moral, Selamat Tinggal Revolusi Mental”.

Sedangkan yang rajin bekerja dan berpikir kreatif, kata Amien, disebut sebagai bermental saudagar atau pengusaha, misalnya. Ada pemimpin yang dianggap berani, berwibawa, tidak gampang menyerah tatkala menghadapi masalah pelik, bahkan bisa menggembirakan anak buahnya. Maka pemimpin tersebut dinilai memiliki mentalitas kepemimpinan atau leadership quality.

“Sebaliknya ada pula tipe pemimpin yang lemah, tidak berwibawa, cenderung penakut, tidak pernah bersikap otentik, karena distir (diarahkan) oleh orang lain. Maka pemimpin jenis ini lebih pantas jadi pengikut. Dia lebih banyak memiliki followership mentality.”

“Mentalitasnya mentalitas pak turut atau bu turut, hanya mengikuti arahan si fulan dan si anu. Bisa saja seorang presiden tidak pernah menjadi dirinya sendiri, karena ada presiden riil yang memberikan aba-aba dan pengarahan.”
Akan tetapi ada hal yang lebih mendasar dan lebih esensial lagi yang perlu kita perhatikan, yakni bahwa mental tidak pernah bisa membedakan nilai (values). Nilai-nilai moral, nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai kemanusiaan, tidak dikenal dalam struktur mental manusia.

Amien menegaskan, sebuah rezim penguasa yang menjauhi nilai-nilai agama yang bersifat absolut karena berasal dari wahyu yang berlaku abadi, tidak bisa tidak pasti akan menghadirkan diri sebagai rezim yang sangat permisif. Rezim yang kehilangan landasan moralitas. “Tidak aneh bila penguasa akan bertindak semau gue, akan mati rasa dan dalam bahasa rakyat, bisa menjadi raja tega.” (des)