JAKARTA (Panjimas.com) — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memilih pendekatan persuasif dan edukatif dalam merespons aksi Yuswar (74), pria lansia yang sempat membentangkan spanduk bernada penodaan agama di depan Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Muhammadiyah membuka pintu dialog untuk membimbing yang bersangkutan.
Pertemuan dilaksanakan pada Kamis (23/7/2026) lalu di ruang rapat lantai 2 Gedung PP Muhammadiyah. Yuswar diterima langsung oleh jajaran pengurus PP Muhammadiyah, di antaranya Ustaz Abu Deedat Syihabuddin, perwakilan Dinsos DKI Jakarta, serta Kristolog muda Dr. Ahmad Zuhdi.
”Saya cuma orang pinggiran, bukan ustaz. Tapi saya mau tahu, apalagi usia saya sudah lanjut. Kalau saya mati tidak bagus, kan… Kalau ini masih ada kesempatan saya, cuma itu saja motif saya,” ujar Yuswar di hadapan tim dialog.
Berbelit-belit dan Tak Mampu Buktikan Tuduhan
Dalam dialog tersebut, tim PP Muhammadiyah mencercanya dengan sejumlah pertanyaan dasar terkait poin-poin ekstrem yang tertera di spanduknya. Namun, Yuswar tampak berbelit-belit dan terus mengalihkan pembicaraan saat diminta menunjukkan dasar argumentasi atas pilihannya menuding Nabi Muhammad SAW maupun Allah SWT.
Baca juga: Bentangkan Spanduk Nada Penodaan Agama di Depan PP Muhammadiyah, Pria Lansia Asal Medan Diamankan
Pada akhirnya, ia tidak bisa menjawab ataupun membuktikan satu pun klaim tuduhan yang telah dibuatnya sendiri dalam spanduk tersebut. Merespons sikap tersebut, Ustaz Abu Deedat secara tegas meluruskan keraguan Yuswar dan kembali menegaskan bukti otentisitas Alquran.
”Alquran itu kalamullah, jelas Allah yang menurunkan dan Allah yang menjaganya (Inna nahnu nazzalnadz-dzikra wa inna lahu lahafizhun). Bukti penjagaannya nyata, banyak kaum muslimin yang hafal Alquran bahkan orang tunanetra sekalipun. Jadi tidak perlu meragukan hal itu,” tegas Ustaz Abu Deedat.
Analogi “Membangun Rumah” untuk Meluruskan Pemahaman
Selain itu, Dr. Ahmad Zuhdi menerangkan kekeliruan pemahaman Yuswar mengenai teks penciptaan alam semesta antara Surah Fussilat dan Surah An-Nazi’at melalui analogi tahapan membangun rumah. Ahmad Zuhdi menjelaskan bahwa Surah Fussilat (khalaqal-ardha) merupakan tahap perencanaan dasar, sedangkan Surah An-Nazi’at adalah tahap penyempurnaan atau penghamparan bumi.
”Ibarat Bapak mau bangun rumah, secara umum pasti fondasinya dulu yang dirancang. Tapi dalam kondisi tertentu, misalnya sedang hujan lebat, dibangunlah atapnya atau rangka bajanya terlebih dahulu agar tidak kemasukan air, baru setelah itu bagian bawahnya dihamparkan. Jadi tidak ada pertentangan antara Surah Fussilat dan An-Nazi’at,” jelas Dr. Ahmad Zuhdi.

Ahmad Zuhdi menekankan bahwa sikap berbelit-belit dan kerancuan berpikir Yuswar bersumber dari kebiasaan menafsirkan ayat secara otodidak tanpa perangkat ilmu tafsir yang memadai.
”Bapak tidak boleh menafsirkan Alquran sendiri karena tidak memiliki perangkat ilmunya. Ibarat urusan kesehatan kita bertanya ke dokter, bukan ke tukang becak. Karena belajar sendiri tanpa bimbingan, Bapak sampai pada kesimpulan yang keliru,” pungkasnya.
Setelah mendapatkan penjelasan analitis dan ilmiah serta menyadari keterbatasannya dalam membuktikan argumennya, Yuswar akhirnya dapat menerima penjelasan para tokoh agama tersebut. Pertemuan ditutup dengan nasihat agar Yuswar menghentikan aksi provokatif di ruang publik serta mendalami keislaman di bawah bimbingan guru dan ulama yang tepat.*
















