(Panjimas.com) – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah mendapat laporan bahwa ada remaja yang meminum air rebusan pembalut supaya merasakan nge-‘fly‘ sejak tiga bulan lalu. Tepatnya berasal dari sebuah rumah rehabilitasi di daerah Kudus. Indra Dwi Purnomo, Dosen Fakultas Psikologi  Unika  menambahkan, “Pengonsumsi ini kan mayoritas anak jalanan atau mohon maaf dari keluarga kurang mampu. Nah, ketika dalam kondisi tertekan, ingin senang dan karena keterbatasan modal, anak-anak muda ini jadi suka bereksperimen. Mulai dari yang legal-legal dulu dari antimo, lalu komix, akhirnya nyair bahkan minum rebusan soft*x,”.

Setelah fenomena ngelem, ngemix dan ngoplo, kini ditemukan fenomena ‘fly’ menggunakan air rebusan pembalut wanita. Bahkan beberapa diantara mereka menggunakan pembalut bekas pakai yang ditemukan di tempat sampah. Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng Ajun Komisaris Besar Suprinarto menyatakan, “Sebenarnya ini bukan cara baru, di luar Jateng sudah beredar. Nah kalau di sini kami dapat dari informasi masyarakat yang kemudian kami telurusi. Kebanyakan terjadi di daerah Pantura pinggiran seperti Demak, Kudus, Pati dan Rembang,”

Penggunaan air rebusan pembalut wanita untuk mendapatkan efek yang sama dengan sabu-sabu sangatlah berbahaya. Memang sebagian besar bahan kimia yang terkandung dalam pembalut relatif aman sebab hanya kontak dengan kulit sehat. Namun akan berbeda cerita jika bahan kimia tersebut tertelan dan masuk dalam organ tubuh. Belum lagi penggunakan pembalut bekas, darah merupakan media sempurna bagi pertumbuhan bakteri toksik. 

Di sisi lain, pihak BNNP Jateng menyatakan tidak bisa memberikan tindakan kepada pelakunya karena barang yang digunakan adalah barang legal. “Kami tidak bisa menindak mereka, tindakan hukum tidak bisa karena barang yang digunakan legal dan bukan narkotika atau psikotropika. Langkah kami yang bisa ya memberikan edukasi kepada mereka bahwa itu perilaku menyimpang yang merugikan kesehatan,” ucap Supri.

Menurut Indra, fenomena ini lebih pada masalah mental bukan barangnya. Sehingga penanganannya harus dari hulu, karena kecanduan tidak hanya dipandang dari sisi fisik tapi secara psikologis. Adanya perasaan remaja tertekan oleh keluarga dan masyarakat juga ketidaktahuan akan bahaya nge-fly dengan air rebusan pembalut menjadi faktor pendorong menjamurnya tren-tren serupa.

Islam Kelola Generasi

Jika dirunut maraknya fenomena generasi mencari pelampiasan beban kehidupan sekaligus memburu kesenangan semu berasal dari kesalahan paradigma kehidupan yang dianut. Meski Indonesia penduduknya mayoritas beragama Islam tidak lantas standar kebahagiaan disandarkan pada agama. Justru kita dapati kehidupan saat ini dibentuk dan didominasi oleh nilai-nilai Barat yang memuja sekularisme dan menjadikan kapitalisme sebagai pengemudinya, sehingga makna sukses dalam kehidupan tidak lebih dari mencapai kesenangan materi, manfaat dan keuntungan.

Kapitalisme mempromosikan individualisme yang menciptakan pola pikir yang berfokus pada kebutuhan dan keinginan individu yang egois. Materialisme menjadikan fokus individu dalam mengejar kekayaan, harta benda, dan status bukannya apa yang terbaik bagi keluarga, anak-anak, dan masyarakat. Yang mau tidak mau akan membawa dampak tekanan psikologis pada pemeluknya ketika tidak ada/kurang pencapaian materi. Terlebih dengan dipisahkannya agama dari kehidupan, jalan keluar seolah buntu bagi mereka.

Penyandaran kebahagiaan atas materi dan pemisahan agama dari kehidupan membawa konsekuensi logis gaya hidup instan dan egoisme. Tidak peduli pada manusia lain bahkan pada dirinya sendiri. Egoisme melahirkan generasi-generasi  yang tak terlindungi dari kepenatan sistemik. Dan bila gaya hidup instan dan egoisme dianut bukan hanya level individu, namun masyarakat dan negara maka akan terbentuk masyarakat tipe ‘melting pot’ meleburnya kerusakan dalam satu wadah. Generasi tak ada lagi tempat bersandar, efek paling ringan adalah bersenang-senang dengan apapun yg bisa dijangkau dan efek paling buruk adalah depresi hingga berprilaku kriminal dan bunuh diri. Kasus terakhir pun semakin marak di negara-negara maju

“Langkah kami yang bisa ya memberikan edukasi kepada mereka bahwa itu perilaku menyimpang yang merugikan kesehatan”, ucap Supri. Langkah BNNP ini perlu diapresiasi. Namun perlu ditekankan, diedukasi dengan apa? Jika hanya tataran teknis tanpa menyentuh ide dasar penyebabnya, fenomena ini akan terus berulang dimasa depan.

Edukasi yang tepat, kepedulian masyarakat dan penjagaan dari negara adalah rumusan pencegahan dan penanggulangan yang paling tepat dalam menghadapi fenomena kerusakan. Edukasi harus benar-benar menghujamkan dalam setiap individu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah materi, tapi ridho Illahi. Dengan keyakinan yang kokoh, terkikislah gaya hidup instan dan egois. Menjaga tubuh adalah bagian dari ibadah. Dan ini hanya didapat dari edukasi yang meletakkan agama sebagai pondasi dan pengatur seluruh kehidupan.

Laporan  survey Generation Z: Global Citizenship Survey dengan judul What The World’s Young People Think and Feel – 2017 oleh Varkey Foundation menyebutkan 68% Gen Z merasa bahagia dengan hidupnya. Dari 20 negara yang disurvey, generasi Z di Indonesia menduduki peringkat tertinggi sebagai negara dengan generasi Z paling bahagia. Alasan kebahagiaan mereka yang terungkap dalam survey ini adalah faktor keimanan, dalam hal ini agama. Maka tepatlah firman Allah SWT,

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Penguatan individu tidaklah cukup tanpa adanya kepedulian masyarakat. Sebab seringkali tekanan sosial yang ada  akibat munculnya standar-standar materialis dari masyarakat. Harus dibentuk kepekaan sosial masyarakat untuk saling peduli yang dirajut dalam ukhuwah atas Illahi. Terakhir, sebagai benteng terluar harus ada negara yang yang memastikan remaja dan seluruh elemen masyarakat beraktivitas di ranah yang bermanfaat dunia akhirat, bukan sekedar manfaat ukuran materi. Serta pemberi sanksi yang tegas bagi siapapun yang berupaya menjerumuskan ummat pada kerusakan. Sinergi dari ketiga pilar ini diharapkan kreativitas yang timbul adalah kreativitas yang konstruktif (membangun) bukan dekstruktif (merusak). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). [RN]

 

Penulis, Dessy Fatmawati, S.T

Pengajar Kimia SMA