JAKARTA (Panjimas.com) – Ustadz Nur Sugi Raharja atau yang akrab disapa Gus Nur, kembali menyampaikan tanggapannya atas penolakan GP Ansor di sejumlah daerah di Sumatera.

Aktivis Islam yang pernah ditolak GP Ansor saat berdakwah ini menyampaikan nasihat kepada GP Ansor. (Video: Dipersekusi Ormas Saat Mengisi Pengajian, Begini Tanggapan Gus Nur)

“Bagaimana pun juga, mereka saudara kita. Aku walaupun marah, walaupun benci, tapi marah, benciku karena Allah,” kata Gus Nur kepada Panjimas.com,Kamis (20/9/2018).

Kemudian, Gus Nur pun membacakan sebuah tulisan karya seorang sastrawan asal Riau, seperti berikut ini.

Dari Bumi Lancang Kuning …

Jangan pernah ajari kami orang Melayu ini bagaimana cinta NKRI. Kami menyerahkan harta kami Untuk NKRI 

By: Syaukani Al Karim
(Sastrawan Riau)

Menggelikan, sekaligus terdengar menjijikkan, ketika  mendengar Tuan ingin berkhutbah tentang kebangsaan, NKRI, atau tentang Pancasila, di kampung kami, Riau.

Tuan mungkin sedang mengidap amnesia sejarah.

Baiklah, aku sampaikan lagi, bahwa ketika negeri yang bernama Indonesia ini merdeka tahun 1945,  kami masih negara berdaulat, dan lalu kami dengan kesadaran memutuskan untuk bergabung, menjadi Indonesia.

Kami masuk ke Indonesia, bukan dengan tangan kosong seperti Tuan.

Kami menyumbang 10 provinsi, 2 daerah jajahan, 39 butir berlian, uang 13 juta gulden, menyumbang minyak, dan memberikan bahasa.

Bahkan sampai hari ini, tanah kami, mulai dari blok kangguru, Dumai, dan Pakning, masih menyusukan negeri ini dengan 900 ribu barrel setiap hari.

Kami berikan juga hasil hutan, kelapa sawit, hasil laut, dan berbagai komoditas lain.

Sejak eksploitasi stanvac sampai minyak bumi kami mengisi lambung kapal Gage Lund tahun 1955, kami sudah menyumbang ribuan trilyun kepada negeri ini. 

Kami juga telah memberikan bahasa, agar Tuan petah berkata kata.

Izinkan kami bertanya: Apa yang sudah negeri Tuan sumbangkan kepada Indonesia, sehingga Tuan merasa berhak untuk menceramahi kami soal kebangsaan?

Minyak kampung kami juga ikut dalam tol, dalam jalan yang tuan injak di kampung Tuan.

Minyak kami sudah membangun gedung gedung di kampung Tuan, bahkan republik ini.

Itu sumbangan kami, mana sumbanganmu?

Tuan hanya mencintai negeri ini dengan tagar #nkrihargamati, atau #sayapancasilasayaindonesia, lalu Tuan merasa sudah demikian Indonesia?

Di kampung kami, orang kampung Tuan bisa menjadi apa saja, jadi gubernur, bupati, walikota, pengusaha, pejabat, anggota legislatif, bahkan menjadi bajingan pun boleh.

Bisakah hal yang sama terjadi di kampung Tuan?

Di mana adab Tuan?

Tuan menikmati kekayaan kami, tapi Tuan tanpa malu, tanpa moral mempersekusi ulama kami dan mempertanyakan keindonesiaannya.

Apakah Tuan waras?

Berhentilah melakukan omong kosong, belajarlah untuk memiliki rasa malu.

Antara kami dan Tuan tidak layak untuk disandingkan dalam keindonesiaan.

Berhentilah meludahi muka sendiri …

GP Ansor Ditolak Masyarakat Melayu

Untuk diketahui, Kirab Satu Negeri GP Ansor yang berlangsung di Gedung Nasional Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, dibubarkan massa yang berasal dari Kesultanan Langkat, pada Rabu (19/9/2018).

Massa terdiri dari ratusan orang menggeruduk Gedung Nasional Tanjung Pura menolak kehadiran GP Ansor.  (Baca: Massa Bubarkan Kegiatan GP Ansor Karena Diduga Ajarkan Islam Nusantara)

Tidak hanya mengusir perwakilan GP Ansor, massa bahkan nyaris bentrok baku hantam. Massa juga mengusir undangan yang akan hadir untuk tidak mengikuti acara. Mereka menuding kegiatan GP Ansor terindikasi akan membentuk Islam Nusantara.

Bukti penolakan keras, massa sampai mencopot dan membakar spanduk milik GP Ansor yang terpasang di Gedung Nasional.

Massa menolak keras kehadiran GP Ansor dan tidak menerima penyebaran Islam Nusantara di Negeri Betuah Langkat.

Peristiwa serupa juga terjadi di Bengkalis. Sekelompok masyarakat di Bengkalis menolak kehadiran GP Ansor yang akan menghadiri kegiatan Gebyar Bersholawat dan Tablig Akbar di Desa Mentayan Kecamatan Bantan, Bengkalis, Ahad (23/9/2018).

Rombongan Purwaji dan kawan-kawan sempat dihalangi ketika keluar dari dermaga pelabuhan Roro Air Putih Bengkalis, sekitar pukul 16.20 WIB. (Baca: Dihadang Masyarakat, Rombongan GP Ansor Akhirnya Pulang Tinggalkan Bengkalis)

Sekelompok orang itu menduga, kehadiran GP Ansor akan menyebar paham-paham diluar kaedah Islam atau Islam Nusantara. Selain itu, mereka tidak terima ditolaknya Ustadz Abdul Somad oleh oknum Ansor.

Tak hanya di Langkat dan Bengkalis, sebelumnya kegiatan Kirab Satu Negeri GP Ansor yang sedianya menghadirkan Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, juga mendapat penolakan masyarakat Melayu di Riau.

Berbagai Ormas Melayu Siak, seperti keluarga besar kerabat Kesultanan Siak yang diwakili oleh Tengku Habibie, Tengku Wira Shahab, Tengku Said Eka Nusirhan, Tengku Ikhwan Shahab menolak kedatangan Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Hal serupa juga disampaikan oleh Rumpun Melayu Bersatu Laskar Hulubalang Melayu Riau (RMB-LHMR).

Selain menolak kedatangan Ketua Umum GP Ansor, RMB-LHMR menolak pencatutan simbol paling sakral pada Undangan GP Ansor tersebut, dalam Hal ini adalah Istana Siak, karena dirasa tidak pantas dan terkesan melecehkan marwah negeri istana dan bangsa Melayu.

Penolakan itu juga merupakan respon masyarakat Melayau, atas penghadangan kajian tablig akbar Ustadz Abdul Somad di sejumlah daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah beberapa waktu lalu. [AW]