JAKARTA (Panjimas.com) – Tak selamanya sakit itu musibah. Sakit bisa menjadi anugrah jika tahu hikmah dibalik sakit yang dideritanya. Buktinya, Jhody Bejo, presenter yang selalu bersama dengan Teuku Edwin ini, merasakan kasih sayang Allah berupa sakit jantung yang dialaminya. Baginya itu semua adalah teguran Allah, agar dirinya bertaubat dan berbenah diri.

“Hijrah itu nggak ada yang manis. Orang yang melihat saya hijrah, pasti bilang, kok bisa ya. Hijrah itu adalah sebuah perpindahan atau perubahan dari yang tidak bagus menjadi bagus. Hijrah adalah qadarullah, kesempatan kita untuk kembali dan memperbaiki diri,” ujar Jhody saat ditemui Panjimas dalam Festival Hijrah 2018 di Jakarta Convention Center, belum lama ini.

Jhody bercerita, awal mencari Allah adalah ketika ia terkena serangan jantung yang pertama tahun 2016. Padahal dua hari sebelum terkena serangan jantung, ia sempat melakukan sesuatu yang mulia. Ketika itu ada event otomotif. Ia membangun musholla untuk pengunjung.

“Tapi saya malah dikasih kado dari Allah, berupa serangan jantung. Setelah keluar dari rumah sakit, saya su’uzon sama Allah, kenapa setelah berbuat suatu amalan yang mulia, saya justru dikasih teguran. Saya pun dihantui phobia, takut keramaian. Selama setahun saya mencari Allah.”

Suatu ketika, Jhody bertemu dengan tokoh spritual (ustadz). Lalu istri Jhody menyarankan, agar ia shalat tahajud selama 40 hari. “Saya lakukan pesan istri saya. Makin kesini, saya merasa nyaman dengan tahajud.”

Dalam suatu kesempatan, Jhody dipanggil televisi swasta untuk hadir dalam program dr. Ost. Ia diminta ke rumah sakit Haraapan Kita untuk menemui dokter jantung. “Saya paling malas kalau diminta menemui dokter spesialis jantung. Karena saya tahu, untuk konsultasi dengan dokter jantung atau kanker, udah pasti mahal biayanya. Gue nggak mampu deh. Akhirnya saya dapat konsultasi gratis. Benar saja, ternyata penyumbatannya di jantung saya makin parah.”

Oleh dokter jantung, Jhody ditawarkan untuk memasang ring pada jantungnya. “Alhamdulilah, dengan asuransi kesehatan, saya pasang ring. Selama dua bulan, totalnya sudah 3 ring 2 balon yang terpasang di jantung saya.”

Sejak itulah, Jhody mulai melakukan muhasabah. Ia mulai membayangkan, anytme atau kapan saja ia harus siap-siap dipanggil Allah. “Saya mulai lakukan yang sunnah-sunnah. Saya itikaf di masjid, dari maghrib sampe Isya, dan Subuh sampe waktu Syuruq. Setiap itikaf sendirian, saya ngebayangin tempat imam shalat, kelak di tempat itulah saya akan dishalatkan. Setiap saya membayangi tempat imam shalat, saya selalu ingat kematian.”

Jhody mulai melakukan perubahan, berupaya ngumpulin “saldo amal”. Dulu ia shalat, tapi kalau subuh tidak pernah. Sejak itu, ia lakukan sunnah. Tahun 2017 ia kembali membuka alquran lagi. Awalnya terbata-bata kini sudah mulai lancar.

“Saya sebetulnya tidak mau cerita ini, takut dianggap riya. Tapi demi Allah, saya niatnya untuk sharing dan memberi motivasi kepada siapapun agar melakukan hal yang sama.”

Jhody juga mengakui, bahwa tato yang menempel di tubuhnya sangat banyak. “Tato gue berantakan. Ini untuk yang kedua kali gue hapus tato. Gue cuma kepengen saat menghadap Allah, gue dalam keadaan bersih. Karena itu saya selalu berdoa sama Allah, insyaalloh diijabah. Alhamdulillah, dua minggu sebelum Ramadhan, saya berangkat umroh.”

Seperti dikatakan Jhody sebelumnya, bahwa hijrah itu sakit.. Jangankan orang lain, dikeluarga sendiri membuat mereka terbelalak. Dicibir temen-temen. Mereka merasa heran dengan gamis yang ia kenakan.

“Istiqomah itu berat. Setidaknya, ada tips agar bisa istiqmah, yakni shalat lima waktu dengan tepat waktu dan selalu berjamaah. “Kalau shalat berjamaah, kita gak bakal bakal lupa rakaatnya.”

Saat ini Jhody sibuk dengan BBM alias bolak balik masjid. Sampe-sampe ia dikasih kunci masjid seperti layaknya marbot. Jhody berpesan buat mereka yang baru saja hijrah, agar tetap berkomunitas dengan orang-orang sholeh. Jangan baru hijrah, sudah merasa imannya sudah kuat.

“Setelah rutin shalat tepat waktu, bangun jam 3 malam untuk tahajud, shalat subuh berjamaah, shalat tahiyatul masjid, sunnah qabliyah, maka yang kita lakukan menjadi terbiasa. Usahakan setelah sunnah qabliyah, jangan ngobrol dan jangan main hape, tapi berdoalah. Karena itu waktu yang diijabah Allah.”

Jhody pun sudah menjadikan sunnah sebagai lifestyle. Ia tak lagi minum sambil berjalan ataupun berdiri, ia biasakan minum dengan duduk. Juga tidak lagi makan dengan tangan kiri. “Kita bukan soal mencari fadhilah, karena dosa gue udah banyak. Tapi yang gue rasakan adalah ketentraman hati, mengharapkan rahmat Allah dan menjadi lebih baik.”

Meski Jhody telah hijrah, ia tidak meninggalkan dunia selebritisnya. “Gue masih tetap ngemsi. Ia bersama sahabat sejolinya, Edwin, sudah melakukan sunnah. “Edwin sekarang sudah mulai berwudhu sebelum tidur. Kapan lagi loe didoakan malaikat. Menjaga wudhu itu sebetulnya simple, tapi kadang berat menjalaninnya. Kuncinya, zolimi diri kalo mau istiqomah, Setelah terbiasa akan nikmat.

Jhody berpesan, dunia ini makin tua. Jangan merasa hidup itu masih panjang. Jhody memanfaat sosial media sebagai sarana dakwah. “Harus diakui sosmed itu bisa dijadikan sarana dosa dan bisa sebagai sarana dakwah. Saat ini aja gue sudah menghapus dua akun facebook. Untuk menghapus ribuan foto masa lalunya, gue harus mencari orang untuk menghapus foto-foto masa lalunya satu per satu,” ungkapnya. (des)