JAKARTA (Panjimas.com) — Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia Dodi Izwardi menilai program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah krusial untuk mengatasi “silent emergency” atau kedaruratan tersembunyi akibat dampak jangka panjang stunting di Indonesia.
Dalam dialog bertajuk “Dari Pangan Bergizi Menuju Kecerdasan Bangsa” pada APPMBGI National Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (25/4/2026), Dodi menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, tetapi ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan produktivitas bangsa.
Menurutnya, dampak stunting bersifat akumulatif dan sering kali baru terlihat ketika anak memasuki usia sekolah hingga dewasa.
“Kerusakan akibat stunting itu sifatnya akumulatif dan seringkali baru terlihat penuh pada performa belajar. Satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah melalui konsumsi makanan bergizi seimbang secara berkelanjutan, yang kini diakomodasi melalui program MBG,” ujar Dodi, seperti dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit degeneratif saat dewasa. Mengacu pada teori Barker, anak stunting disebut memiliki risiko 1,7 kali lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner dan 1,4 kali lebih tinggi mengalami hipertensi akibat gangguan pemrograman ginjal sejak masa janin.
Tak hanya itu, risiko osteoporosis meningkat hingga 2,1 kali lipat, diabetes tipe 2 sebesar 1,8 kali, serta gangguan kesehatan mental dan depresi lebih sering terjadi pada individu yang mengalami stunting.
“Inilah yang disebut sebagai silent emergency. Banyak pihak mempertanyakan urgensi MBG karena belum memahami dampak lintas generasi yang membahayakan produktivitas bangsa,” katanya.
Dodi menambahkan, Persagi yang memiliki sekitar 58 ribu anggota ahli gizi di seluruh Indonesia berkomitmen mendukung kualitas pelaksanaan program MBG melalui penguatan kompetensi serta sertifikasi tenaga pengawas gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut dia, sinergi organisasi profesi dengan asosiasi pengusaha dapur penting untuk memastikan rantai pasok pangan dan lingkungan makan sehat berjalan sesuai standar transformasi pangan global.
“Indonesia sudah melakukan fortifikasi, diversifikasi, hingga suplementasi selama bertahun-tahun. Namun konsumsi makanan bergizi secara masif dan terstruktur melalui SPPG inilah yang selama ini belum dijalankan secara nasional,” ujar mantan Direktur Gizi Kementerian Kesehatan itu.
Ia optimistis program MBG dapat menjadi instrumen penting dalam menurunkan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, selama implementasinya berjalan konsisten dan mendapat dukungan luas dari seluruh elemen bangsa.*
















