Jakarta (Panjimas.com) — Ratusan warga Israel yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional ekstremis kanan, Itamar Ben-Gvir, menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah pengawalan ketat kepolisian pada Senin (28/9/2026).
Pemerintah Kegubernuran Yerusalem pada Senin (28/9/2026) menyatakan bahwa pasukan Israel menutup berbagai persimpangan dan jalan di sekitar Kota Tua yang menuju ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Penutupan di Yerusalem Timur yang diduduki ini berlangsung pada hari ketiga hari raya Yahudi, Sukkot.
Pemerintah lokal menyebut warga Israel menari melingkar dan bernyanyi di dalam pelataran Masjid Al-Aqsa selama aksi pencerobohan tersebut. Sebanyak 900 orang tercatat memasuki kompleks suci itu pada Senin pagi.
“Kamilah pemilik tempat ini di Al-Aqsa dan di dalam penjara, dan kami telah mengubah kehidupan para tahanan teroris menjadi neraka,” ujar Ben-Gvir pada Senin (28/9/2026).
“Rakyat Israel berada di jalur menuju kemenangan mutlak, dan hari ini kita berdoa di Al-Aqsa, tempat paling penting bagi bangsa Yahudi,” tambahnya.
Aksi pencerobohan pada Senin (28/9/2026) terjadi bersamaan dengan tindakan otoritas Israel yang memaksa puluhan pemilik toko warga Palestina menutup usaha mereka. Warga sekitar juga diperintahkan untuk tetap berada di dalam rumah di area dekat masjid guna memberi jalan bagi ritual doa umat Yahudi selama Sukkot.
“Puluhan pemilik toko, kafe, dan restoran warga Palestina di Pasar Pedagang Kapas di Kota Tua Yerusalem dipaksa untuk menutup tempat usaha mereka selama hari raya Sukkot demi memberi ruang bagi doa umat Yahudi di pasar tersebut,” ungkap Asosiasi Hak-Hak Sipil di Israel (Association for Civil Rights in Israel) dalam sebuah pernyataan.
‘Bermain dengan Api’
Juru bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh menggambarkan penyerbuan tersebut sebagai bentuk “permainan api dan provokasi berbahaya terhadap perasaan umat Islam di seluruh dunia”.
Ia juga memperingatkan bahwa Israel sedang berusaha menyulut “perang agama” di kawasan tersebut.
Sejak tahun 2003, polisi Israel mengizinkan kelompok-kelompok warga Israel melakukan pencerobohan harian ke kompleks Masjid Al-Aqsa, kecuali pada hari Jumat dan Sabtu.
Israel kerap menerapkan pembatasan ketat terhadap jemaah Palestina. Otoritas Israel melarang pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Al-Aqsa tahun ini, dan hanya mengizinkan 10.000 warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki—wilayah berpenduduk 3,3 juta jiwa—untuk memasuki salah satu situs tersuci Islam tersebut pada Shalat Jumat pertama bulan Ramadan.[]
Sumber: Aljazeera.com















