JAKARTA (Panjimas.com) – Siapa sangka, Ahmad Baihaqi, anak Betawi asli Rawabelong yang nggak tamat SD ini – hanya sampe duduk di bangku lima SD — punya keahlian yang membanggakan di bidang IT dan arsitektur. Bang Aji, begitu ia akrab disapa, ternyata punya kemampuan membuat radio dan design tridi interior.

“Terus terang ane nggak punya latarbelakang pendidikan formal. Ane cuma sampe kelas 5 SD. Ane juga gak pernah kursus, kampus ane itu warnet, belajar otodidak, ngobrol-ngobrol sama orang luar, pake transleter, lama-lama terbiasa. Boleh dibilang ane mujur aje,” kata Bang Aji saat ditemui Panjimas di Rawabelong, Jakarta Barat, belum lama ini, Jum’at (

Kenapa putus sekolah? Menurut pengakuan Aji, bukan persoalan tidak mampu, melainkan ia anak bandel yang susah kalau disuruh sekolah oleh orang tuanya. “Bukannya tidak mampu, ane dulu anak bandel, disuruh sekolah, malah main. Babe ane dulu pedagang bunga tanaman hias, babe ane namanya H., Abdul Ghani, dikenalnya dengan sebutan H. Gogon.”

Berkah keahlian secara otodidak, Bang Aji kemudian membuat Radio Rabel alias Rawabelong. Sebelumnya, Aji yang juga pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) membuat Radio LKB.

“Suatu ketika, ane main ke pasar Rawabelong, ketemu bang Ijos dan bang Jajang (Ketua koperasi). Ane ditantang untuk bikin radio. Sejak itu ane langsung praktekin dengan sarana komputer seadanya. Ane beli barang second dan rakit sendiri. Selain radio, sekalian aja bikin TV streeming. Semua berawal dari iseng,” kisah lelaki kelahiran Jakarta, 10 Oktober 1972 ini.

Bang Aji yang telah memiliki dua cucu ini, terpaksa merangkap jobdesk, mulai dari IT, editor, hingga reporter. Liputannya masih seputar kegiatan di pasar bunga Rawabelong dan santunan anak yatim. Lama-lama kualahan juga, karena SDM nya Cuma bertiga. Ia ingin ada anak muda Betawi yang magang di radio yang diciptakannya.

“Ane mulai mengenal IT sejak 2014. Bahkan tahun 1988 udah oprak –oprek komputer. Ketika terjun ke Tridi, sempat dibayar pake rokok. Jadi sebelum buat Radio Rabel, ane buat Ajitec radio di rumah ane.”

Kenapa Radio Rawabelong? Bang Aji punya cita-cita mulia, ia pengen marwah pasar bunga Rawabelong tidak hilang. “Orang tetap mengenal Rawabelong sebagai pasar kembang atau pasar bunga. Dan di pasar ini tetap ada orang Betawinya juga. Jadi, Pasar, budaya betawi, dan orang Betawi tetap dipertahankan,” ungkapnya.

Jika tidak menjaganya, bisa-bisa identitas Rawabelong sebagai pasar bunga bisa hilang. “Ada yang dagang kangkung, ada yang dagang ayam, akhirnya bukan lagi pasar bunga Rawabelong. Itulah sebabnya, ane buat media untuk mempertahankan budaya betawi dan menjaga marwah pasar ini, jangan sampe berubah,” harap Bang Aji.

Nama Radio Rabel, singkatan dari Rawabelong, terinspirasi dari Radio frekuensi SW dan AM sebelumnya. Dulu ada radio namanya Rabela (Rawabelong belakang) sekitar tahun1980. “Akhirnya spontan ane hilangin huruf A nya, menjadi Rabel.”

Sebagai putra Betawi, Aji memang ingin orang Betawi punya corong medianya sendiri. Bahkan ia ingin anak-anak Betawi yang punya kemampuan IT, berbuat sesuatu untuk Betawi. “Ane cuma merintis alias embrionya saja, kelak nanti ada yang nerusin dari kalangan anak muda Betawi. Karena segmennya anak muda, maka harus diangkat budayanya, bahwa Betawi itu keren.”

Saat ini pendengar Radio Rabel belum begitu meluas. Meski memposisikan identitasnya sebagai radionya orang Betawi, tapi lagu-lagu yang diputar malah bukan lagu Betawi, seperti lagu-lagu Benyamin Sueb. Kenapa?

“Ane takut kena royalty. Sementara ini kite putar lagu dari luar negeri. Ke depannya sih pengen silaturahim dengan keluarga Bang Bens. Jika dapat izin untuk memutar lagu-lagu Bang Bens, baru deh ane berani putar. Kalau bisa ada komunitas Rawabelong yang menemui keluarga Bang Bens untuk dapat izinnya. Saat ini, belum ada program khusus Radio Rabel. Tapi ke depan ane mau bikin talkshow. Selama ini siarannya baru sebatas penerangan tentang kesehatan dan yang berkaitan dengan bunga.”

Radio Rabel sendiri nonstop 24 jam, namun siarannya masih belum rutin. Programnya pun belum ada, mengingat SDM-nya juga belum tersedia. Bicara anggaran atau biaya operasional Radio Rabel diback up oleh koperasi pasar bunga Rawabelong. Sedangkan gaji penyiarnya juga belum ada alias relawan.

Melalui Koperasi yang dibangun, diharapkan, Radio Rabel, selain ingin melestarikan budaya betawi, juga sekaligus memajukan pasar. “Saat ini ane sedang konsen untuk mendesain tridi Pasar Bunga Rawabelong. Ane pengen ada pelelangan bunga, makanya koperasinya dibenerin dulu. Jika koperasi sudah berjalan baik, rentenir akan mati dengan sendirinya. Nah,koperasi ini mulai dari hulu hingga hilirnya. Sehingga petani bunganya bisa lebih maju dan sejahtera,” ujarnya penuh harap. (des)