JAKARTA (Panjimas.com) – Pengacara selebritis Farhat Abas kembali berbuat ulah. Melalui akun Instagram @farhatabbastv226, Senin (10/9) lalu, Calon anggota legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menulis sesuatu yang bersifat SARA.

Farhat mengunggah foto dirinya, yang kemudian diberi tulisan; ‘Pak Jokowi adalah Presiden yang menuntun Indonesia masuk surga’. Selain itu, dia pun memberikan keterangan: “Yang Pilih Pak Jokowi Masuk Surga ! Yang Gak Pilih Pak Jokowi dan Yang Menghina, Fitnah & Nyinyirin Pak Jokowi ! Bakal Masuk Neraka ! ( jubir-Indonesia)”.

Menanggapi ucapan Farhat Abbas soal ‘pilih Jokowi masuk surga’, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai ucapan Farhat tidak rasional dan memiliki diksi jangka pendek dan bentuk politik kampungan atau kerap disebut alay.

“Politik kita itu dipenuhi dengan diksi-diksi jangka pendek seperti diksi provokatif, hiburan yang irasional. Yang dilontarkan bukan ide yang menghasilkan dialektika yang positif. Yang dihadirkan justru narasi yang irasional, seperti Farhat Abbas itu tadi,” ucap Dahnil usai diskusi di Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (12/9/2018).

Dahnil melihat cara itu tak hanya dilakukan Farhat, tapi juga pihak lain. “Saya tidak mengatakan hanya satu kelompok, ya kelompok lain juga melakukan hal serupa. Yang diproduksi itu hanya sensasi tanpa substansi. Jadi memang tidak mendorong diskursus dan dialektika yang positif dan itulah salah satu ciri politisi alay itu. Politik 220 karakter,” katanya.

Dia menjelaskan, salah satu ciri politisi alay adalah mudah terbawa perasaan alias baper. Seharusnya, tutur Dahnil, perdebatan harus mengemukakan gagasan.

“Cenderung baper, semua politik digeser menjadi pertarungan perasaan. Jadi hidup mati, teman bisa jadi musuh. Kalau pertarungan gagasan ya beda pilihan biasa saja. Sekeras apapun perdebatan bukan berarti saling membenci,” tuturnya.
“Saya pikir masyarakat dengan sendirinya akan bosan dengan model-model politik yang miskin gagasan seperti itu, apalagi pertarungannya hanya sekitar sepatu, merk baju, kendaraan itu yang menurut saya politik alay,” sambung Dahnil. (des)